Seseorang Akan Dikumpulkan Bersama Orang Yang Dia Cintai Pada Hari Kiamat, Lalu Siapakah Yang Kamu Cintai....? Rasul dan Para Sahabat atau Para Artis Yang Belum Jelas Tujuan Hidupnya
"Sampai Manapun Kamu Sembunyi, Kematian Pasti Akan Datang. Maka Apakah yang Sudah Kita Persiapkan Untuk Kehidupan Yang Tak Ada Ujungnya"

Top Social Icons

Ilmu Akan Menerangimu Layaknya Lampu Di Kegelapan Malam Yang Gelap Gulita, Semua Orang Akan Membutuhkanya

Selasa, 07 Juni 2016

Perkara-Perkara Yang Membatalkan Puasa


Perkara-Perkara Yang Membatalkan Puasa


            Saudaraku yang saya sayangi, setiap ibadah tentu ada pembatal dan pantangannya yang tidak boleh dilanggar. Sebagai contoh, pembatal shalat di antaranya kentut, syahadat pembatalnya adalah kesyirikan dan amal-amal yang lain.

            Maka begitu pula puasa, di dalamnya ada pembatal dan pantangan yang tidak boleh dilanggar bagi yang sedang mengerjakannya. Maka kita dalam entri ini akan sedikit membahas secara ringkas mengenai pembahasan pembatal puasa.

            Yang dapat membatalkan puasa secara garis besar ada 6 hal:

1.      2. Makan dan minum secara sengaja. Maka seorang yang berpuasa suatu ketika kelupaan makan dan minum dan benar-benar lupa dan bukan di buat-buat maka tidak ada qadha (ganti) baginya dan tidak pula kaffarah (tebusan).  Namun hendaknya diperhatikan ketika si puasa lupa ini ingat sedangkan makanan atau minuman masih dalam mulut mak

Rabu, 01 Juni 2016

Hal-Hal yang Menjadika Boleh Enggak Puasa


Udzur-Udzur Yang Menajdikan Seseorang Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan

          Dibolehkan tidak berpuasa pada bulan ramadhan karena alasan-alasan berikut  ini:
1.    Sakit dan tua (lanjut usia). Maka orang yang sakit dan masih memungkinkan sembuh boleh tidak berpuasa, namun apabila sudah sembuh wajib baginya mengqadha (mengganti) puasa sebanyak hari yang ia tidak berpuasa. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah : 184)

Dan juga firman-Nya:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah : 185)

Sakit yang diberi keringanan boleh tidak berpuasa adalah yang memberatkan seseorang untuk berpuasa, seperti demam, tipes dan lain-lain. Adapun kalau Cuma sakit panu atau kudisen maka ini bukanlah sakit yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa.

Sedangkan sakit yang sudah tidak bisa disembuhkan atau orang yang lemah   untuk berpuasa terus menerus seperti orang yang sudah tua renta,maka boleh tidak berpuasa dan tidak ada qadha (ganti) puasa baginya. Hanya saja hendaknya dia membayar fidyah (tebusan), yaitu dengan cara memberikan makan satu orang miskin setiap harinya. Karena di awal-awal disyari’atkan puasa Allah ta’ala menjadikan “memberi makan” sebanding dengan puasa ketika masih ada pilihan antara keduanya. Maka jadilah “memberi makan” sebagai pengganti puasa ketika ada udzur di  atas.

Maka orang lemah yang sulit sembuh karena suatu penyakit atau karena tua memberi makan setiap harinya setengah so’ gandum, kurma, beras atau makanan pokok yang sejenisnya. Ukuran satau so’ kurang lebih 2,25kg. jadi memberi makan orang yang tidak mampu setiap harinya kurang lebih setara dengan 1,25 kg. Namun jika orang sakit tetap ingin berpuasa maka puasanya sah.

2.    Safar (melakukan perjalanan). Maka orang yang sedang melakukan perjalanan boleh untuk tidak berpuasa ramadhan. Namun dia harus mengqadha puasa yang ia tinggalkan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah :184)

Dan firman Allah:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah : 185)

Dan dalil lainnya adalah sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam ketika ada yang bertanya kepada beliau tentang puasa saat safar, maka Nabi menjawab:

إِنْ شِئْتَ فَصُمْ, وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ.

Artinya: “Jika kamu ingin berpuasa maka puasalah dan jika ingin tidak berpuasa maka berbukalah.” [1]

Dan Nabi suatu ketka di bulan ramadhan pernah pergi ke Mekkah dalam keadaan berpuasa maka beliau merasa kepayahan (cape) maka beliau berbuka (membatalkan puasa) dan sahabat yang lain ikut berbuka.[2]

Dibolehkan membatalkan puasa pada safar jauh yang boleh mengkashar (meringkas jumlah) shalat, yang ukurannya kurang lebih 48 mil atau setara dengan 80 km. hanya saja dalam masalah penentuan menggunakan jarak ini ada perbedaan pendapat di antara ‘Ulama, ada yang berpendapat dengan jarak ada pula yang berpendapat dengan ‘urf (kebiasaan).

Safar yang menyebabkan seseorang membatalkan puasa adalah safar yang boleh (halal), kalau safar bertujuan untuk maksiat atau safar yang dibuat-buat supaya bisa berbuka maka tidak boleh ketika tujuannya demikian.

Jika seorang musafir tetap berpuasa maka puasanya sah. Karena hadits Anas Radhiyallahu’anhu :

كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى المُفْطِرِ, وَلَا المُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

Artinya: “dahulu kami melakukan perjalanan bersama Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, namun yang berpuasa tidak mencela yang tidak bepuasa dan yang tidak berpuasaa juga tidak mencela yang sedang berpuasa.[3]

Orang safar yang tetap ingin berpuasa syaratnya adalah selama puasanya tidak memberatkannya dalam perjalanan. Jika memberatkannya atau membahayakan dirinya, maka tidak berpuasa pada saat seperti itu lebih afdhal. Karena mengambil rukhsah keringanan dan juga Karena Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan pernah melihat seseorang yang berpuasa sudah kepayangan karena sangat panasnya terik matahari dan orang-orang mengerumuninya. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَ البِرِّ الصِّيَامُ فِيْ السَّفَرِ

Artinya: “Bukanlah termasuk (perkara yang) baik berpuasa di dalam perjalanan” [4]

3.    Haid dan nifas. Maka para wanita yang masih dalam masa haid dan nifas wajib tidak berpuasa ramadhan, bahkan haram bagi keduanya untuk berpuasa, kalaupun tetep ngeyel berpuasa maka puasanya tidak sah. Dalilnya adalah hadits Abu Sa’iid Al-Khudri Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا

Artinya: “Bukankah wanita itu apabila sedang haid tidak boleh shalat dan berpuasa ? Maka itulah kekurangan wanita dalam perkara agamnya.” [5]

Bagi wanita yang haid dan nifas wajib mengqadha (mengganti) puasa yang ditinggalkannya ketika haid dan nifas. Ini berdasarkan hadits Ummul mukminin A’isyah Radhiyallahu’anha :

كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ, فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ.

Artinya: “Dahulu kami juga terkena hal itu (haid), maka kami diperintah untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha shalat” [6]

4.    Hamil dan menyusui. Seorang wanita yang hamil atau menyusui takut terjadi sesuatu pada dirinya atau anaknya karena sebab puasa, maka boleh tidak berpuasa. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas Radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنِ  المُسَافِرِ شَرْطَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ, وَعَنِ الحُبْلَى وَالمُرْضِعِ الصَّوْمِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah meringankan bagi musafir syarat shalat dan puasa.  Dan Allah meringankan bagi wanita hamil dan menyusui syarat puasa.” [7]

Wanita yang hamil atau menyusui boleh tidak berpuasa ketika takut terjadi bahaya pada janin dan anaknya. Cukup bagi keduanya memberi makan setiap harinya satu orang miskin dan tidak perlu mengqadhanya. Bedasarkan ucapan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhuma :

المُرْضِعُ وَالحُبْلَى إِذَا خَافَتَا عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا.

Artinya: “Jika wanita yang menyusui dan mengandung takut terjadi sesuatu pada anak ataupun janinnya, maka maka berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan (orang yang tidak mampu).”[8]
Maka secara ringkas sebab-sebab atau udzur yang membolehkan seseorang tidak berpuasa ada 4 yaitu:

1.Safar.
2.sakit.
3.haid dan nifas.
5.takut membahayakan sebagaimana pada orang yang hamil dan menyusui.

            *Lalu mana yang lebih afdhal (utama) berpuasa atau berbuka (tidak berpuasa)?....

1.    Orang yang sakit dan safar apabila tidak merasa keberatan dan kesusahan maka yang utama baginya berpuasa. Namun jika merasa keberatan dan kesulitan maka yang utama baginya adalah berbuka.

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : كُنَّا نَغْزُوْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ رَمَضَانَ فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا المُفْطِرُ, فَلَا يَجِدْ الصَّائِمُ عَلَى المُفْطِرِ وَلَا المُفْطِرُعَلَى الصَّائِمِ, يَرَوْنَ مَنْ وَجَدَ قُوَّةً فَصَامَ فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ. وَيَرَوْنَ مَنْ وَجَدَ ضَعْفًا فَأَفْطَرَ فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ.

Artinya: “Dari Abu sa’id Al-Khudri Radhiyallahu’anhu berkata: dahulu kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam di bulan ramadhan, maka di antara kami ada yang berpuasa dan adapula yang tidak berpuasa. Yang berpuasa tidak marah kepada yang berbuka dan yang berbuka juga tidak marah kepada yang berpuasa. Mereka (para sahabat) berpandangan barang siapa yang punya kekuatan lebih lalu berpuasa maka itu baik baginya, dan siapa yang merasa lemah lalu tidak berpuasa maka itu baik baginya.”[9]

2.    Adapun wanita yang haid dan nifas jika berpuasa tidak sah. Karena di antara syarat sahnya puasa adalah suci dari haid dan nifas. Dan wajib bagi keduanya mengqadha sebagaimana hadits di sebelumnya.

3.    Orang yang sudah tua renta, orang yang sakit yang sulit sembuh, apa yang wajib bagi keduanya?
Maka yang lebih utama adalah tidak berpuasa dan memberi makan setiap harinya satu orang miskin. Ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Artinya:  Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.  (Al-Baqarah : 184).

Dari ‘Atha’ dia mendengar Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma membaca ayat ini (di atas) lalu dia  berkata:

لَيْسَتْ بِمَنْسُوْخَةٍ, هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيْرُوَالمَرْأَةُ الكَبِيْرَةُ لَايَسْتَطِيْعَانِ أَنْ يَصُوْمَا فَلْيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا

Artinya: “Ayat ini tidaklah di mansukh (dihapus hukumnya), ayat ini berlaku pada orang tua renta dari kalangan laki maupun perempuan yang tidak mampu lagi untuk berpuasa. Maka hendaknya memberi makan setiap harinya satu orang miskin (sebagai pengganti puasanya).”[10]

4.    Orang hamil dan menyusui mana yang lebih utama?
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma berkata: “Jika seorang wanita hamil takut terjadi sesuatu pada dirinya dan wanita yang menyusui takut terajdi sesuatu pada anaknya ketika ramadhan, maka berbuka dan memberi makan setiap harinya satu orang miskin. Dan keduanya tidak mengqadha puasanya”[11]

Dari Imam Nafi’ Rahimahullah berkata: “Dahulu anak perempuan Ibnu Umar di urus oleh seorang quarisy ketika hamil, lalu dia merasa kehausan di bulan ramadhan, maka Ibnu Umar memerintahkannya supaya berbuka (tidak puasa) dan membayar fidyah setiap harinya memberi makan satu orang miskin.”[12]

            *Ukuran makanan yang dikeluarkan:

            Anas bin Malik radhiyallahu’anhu  dahulu dia lemah (tidak mampu berpuasa) selama satu tahun, maka dia membuat satu wadah besar tsarid (roti yang diremuk dan direndam dalam air) lalu mengundang 30 orang miskin dan sampai membuat mereka kenyang.[13]

Semoga kita diberikan kemampuan oleh Allah untuk memaksimalkan segala bentuk ibadah sesuai perintah-Nya dan dimudahkan untuk melaksanakannya tanpa halangan dan kesusahan. Amieen…..



[1] . (HR. Al-Bukhari 1943)
[2] . (HR. Al-Bukhari 1944)
[3] . (HR. Al-Bukhari 1947)
[4] . (HR. Al-Bukhari 1946)
[5] . HR. Al-Bukhari 304)
[6] . (HR. Muslim 335)
[7] . (HR, Tirmidzi 715 dan beliau menilai hadits ini hasan.  An-Nasa’i 2/103, Ibnu Majah 1667, Syaikh Albani menyatakan hadits ini hasan dalam Shahih sunan Abi Dawud no 2145)
[8] . (HR. Abu Dawud 2317, dan Syaikh Albani menyatakan hadits ini Shahih  dalam kitabnya Al-Irwa’ 4/18 dan diriwayatakan semisal redaksi ini dari Ibnu Umar)
[9] .(HR. Tirmidzi, Muslim)
[10] . (HR. Al-Bukhari 8/179)
[11] . Hadits shahih. Syaikh Albani menyandarkan peruwayatannya dalam kitab Al-Irwa’  4/19 kepada Imam Ath-Thabari. Dia berkata isnadnya shahih menurut syarat imam Muslim.
[12] .sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Al-Irwa’   4/20.
[13] . Shahih sanadnya, disebutkan dalam kitab Al-Irwa’ 4/21.

Hukum Shalat / masuk masjid Sehabis Makan Bawang


Hukum Masuk Masjid Sehabis Makan Bawang Merah, Bawang Putih Atau Sesuatu Yang Berbau Tak Sedap

            Allah ta’ala berfirman:

 يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ….
            Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid…..” (Al-A’raf : 31)

            Jabir Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam besabda:

(مَنْ أَكَلَ ثَوْمًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا) أَوْ قَالَ (فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِيْ بَيْتِهِ)

            Artinya: “Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah hendaknya dia menjauhi kami. Atau beliau bersabda, hendaknya dia menjauhi masjid  kami dan diam di rumahnya.” [1]

            Dalam riwayat lain disebutkan:


مَنْ أَكَلَ البَصَلَ وَالثَّوْمَ وَالكَرَاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ المَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى بِمَا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُوْ آدَمَ

            Artinya: “Barang siapa merah, bawang putih dan bawang bakung, maka jangan mendekati masjid kami. Sesungguhnya Malaikat merasa terganggu dengan sesuatu yang anak Adam merasa terganggu dengannya.” [2]

            Suatu ketika, Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu’anhu berkhutbah jum’at, dalam khutbahnya ia berkata:

            “……Kemudian kalian wahai manusia, memakan dua pohon yang aku tidak memandangnya kecuai dua hal yang buruk (baunya), yakni bawang merah dan bawang putih. Sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam apabila mendapatkan bau keduanya dari seseorang dalam masjid, beliau memerintahkan orang tersebut keluar ke lapangan luas. Karena itu, barang siapa yang memakannya, hendaknya menghilangkan( bau) keduanya dengan cara dimasak.” [3]

            Termasuk dalam hal ini adalah mereka yang langsung masuk masjid usai bekerja, lalu ketiak dan kaos kaki mereka menyebarkan bau tak sedap.
            Lebih dari yang di atas adalah sebagian orang yang mebiasakan diri merokok. Kemudian masuk masjid dan menebarkan bau yang mengganggu hamba-hamba Allah, para Malaikat dan mereka yang mengerjakan shalat.

            Semoga Allah memberi taufiq kepada kaum muslimin untuk mengagungkan ajaran-ajaran Islam …..Amieen…

Diringkas dari : محرمات استهان بها الناس يجب الحذر منه



[1] . (HR. Al-Bukhari, lihat Fathul Barii 2/339)
[2] . (HR. Muslim 1/395)
[3] .(HR. Muslim 1/396)