Pengertian dan Dampak Revolusi Hijau pada masa Orde Baru

Pengertian dan Dampak Revolusi Hijau pada masa Orde Baru  | Revolusi hijau adalah sebutan tidak resmi yang digunakan untuk menggambarkan perubahan pada kebijakan budidaya pertanian di banyak negara berkembang, terutama di Asia sekitar tahun 1950an. Seperti diketahui bahwa pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Pertumbuhan penduduk yang semakin cepat mengakibatkan kebutuhan terhadap pangan kemudian meningkat. Hal ini lah yang menjadi latar belakang revolusi hijau. Di Indonesia, revolusi hijau dikenal dengan sebutan Bimas (Bimbingan Masyarakat) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya swasembada beras. Dampak revolusi hijau di Indonesia yaitu dengan menerapkan tiga program pokok yaitu penerapan panca usaha tani, penerapan kebijakan harga sarana dan hasil reproduksi serta adanya dukungan kredit dan infrastruktur. Gerakan ini berhasil menghantarkan Indonesia pada swasembada beras.

Pengertian Revolusi Hijau 

Revolusi Hijau adalah sebuah usaha pengembangan teknologi pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan. Usaha ini berupa penggunaan teknologi yang lebih maju atau modern untuk menggantikan kegiatan pertanian sebelumnya yang tradisional.
Revolusi Hijau diawali oleh Norman Borlaug, seorang penerima Nobel Perdamaian tahun 1960 merupakan orang yang dipandang sebagai konseptor utama Revolusi Hijau. Revolusi hijau diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960).

Pelaksanaan Revolusi Hijau di Indonesia

Pelaksanaan revolusi hijau di Indonesia melalui usaha ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian. Usaha ekstensifikasi pertanian yaitu dengan perluasaan wilayah pertanian. Namun karena areal terbatas, maka usaha peningkatan produksi pertanian melalui usaha intensifikasi pertanian yaitu melalui usaha panca usaha tani yaitu:
  1. Teknik pengolahan lahan pertanian 
  2. Pengaturan irigasi 
  3. Pemupukan 
  4. Pemberantasan hama 
  5. Penggunaan bibit unggul

Dampak Revolusi Hijau

Gerakan revolusi hijau walaupun menghantarkan Indonesia pada swasembada beras ternyata mendapat kritik dari berbagai kalangan. Mereka berpendapat bahwa gerakan revolusi hijau ini menjadikan kesenjangan sosial dan ekonomi pedesaan. Hal ini karena revolusi hijau hanya menguntungkan para pemilik tanah yang memiliki lebih dari setengah hektar, petani kaya dan penyelenggara negara di pedesaan. Karena sebelum pelaksaan Revolusi Industri keadaan penguasaan tanah sudah timpang, akibat dari gagalnya pelaksanaan Pembaruan Agraria yang telah mulai dilaksanakan pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1965.
Kritik terhadap revolusi hijau ditujukan terhadap pelaksanaan revolusi hijau yang tidak memandang kaidah-kaidah yang telah ditentukan sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan yang parah.

Dampak Positif Revolusi Hijau:

  • Dengan adanya penggunaan teknologi pertanian maka terjadi peningkatan hasil pertanian sehingga pemenuhan meningkat. Bahkan setelah pelaksaan Revolusi Hijau, Indonesia mengalami swasembada beras dan melakukan ekspor beras ke India.

Dampak Negatif Revolusi Hijau 

  • Hasil peternakan berupa pemenuhan protein mengalami penurunan karena penerapan teknologi di bidang pertanian tidak diimbangi juga di bidang peternakan.
  • Penurunan keanekaragaman hayati
  • Terjadi ketergantungan terhadap pupuk
  • Munculnya hama baru yang lebih resisten karena penggunaan pestisida.

0 Response to "Pengertian dan Dampak Revolusi Hijau pada masa Orde Baru"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel