Peradaban Islam pada Masa Dinasti Murabhitun dan Muwahidun


Dinasti Murabhitun

Peradaban Islam di Andalusia (sekarang disebut Spanyol) dan Afrika Utara pada masa Dinasti Murabhitun dan Muwahidun mengalami kejayaan. Keadaan Andalusia atau Spanyol pada masa Dinasti Murabhitun menjadi pusat peradaban di dunia. Dinasti Murabhitun adalah salah satu dinasti islam yang pernah berkuasa di Maghribi. Pada mulanya Murabhitun merupakan suatu gerakan keagamaan yang bertujuan untuk memberantas berbagai penyelewengan keagamaan dan akhirnya berkembang menjadi pasukan militer dan berkembang secara politik memperoleh kekuasaan.
Dinasti Murabhitun berasal dari suku Lamtunah yang merupakan bagian dari suku Shanhajah dari suku Barbar. Jumlah suku ini semakin bertambah dan menjadi dominan ketika Musa bin Nushair menjadi gubernur di wilayah Afrika. Gerakan Murabhitun awalnya dicetuskan oleh Yahya bin Ibrahim Al-Jaddali salah seorang kepala suku Lamtunah setelah tiba dari ibadah haji. Ketika itu, dalam perjalanan pulang ke kampung halaman di Naflis, ia berjumpa dengan seorang alim bernama Abdullah bin Yasin Al-Jazuli. Dari perjumpaan ini ia pun meminta sang ulama untuk mengajarkan ilmu agama yang murni kepada seluruh penduduk di kampung Yahya. Setelah disepakati, akhirnya Abdullah dan Yahya bersama-sama menuju ke kampung Yahya. Sayangnya dakwah yang disampaikan oleh Abdullah bin Yasin tidak banyak mendapat sambutan dari masyarakat.
Kegagalan Abdullah bin Yasin tersebut karena ia menggunakan dakwah yang tegas dan keras untuk memurnikan ajaran agama Islam. Hal ini menyebabkan kurangnya simpati masyarakat kepadanya. Menyadari kegagalan dakwah tersebut, Abdullah bin Yasin bermaksud akan meninggalkan desa itu. Namun karena banyak desakan untuk tetap tinggal, akhirnya ia memutuskan untuk tetap tinggal. Atas dukungan kerabat akhirnya ia mulai mendirikan ribat atau pesantren di hulu sungai Sinegal.
Beberapa waktu setelah pendirian pesantren tersebut, akhirnya banyak masyarakat yang ikut bergabung dan menyatakan diri menjadi murid Abdullah bin Yasin. Ketika jumlah muridnya sudah mencapai sekitar seribu orang, Abdullah bin Yasin memerintahkan kepada seluruh muridnya untuk untuk menyebarkan ajaran mereka keluar ribath dan meluruskan berbagai penyimpangan ajaran agama. Sasaran usaha kelompok ribath ini tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi juga kepada para penguasa yang memungut pajak terlalu tinggi tanpa ada distribusi yang jelas kepada masyarakat.
Dari waktu ke waktu, kelompok dan murid Abdullah bin Yasin semakin bertambah banyak dan kuat. Mereka memutuskan untuk menggunakan cara lain dalam berdakwah yaitu dengan melibatkan politik militer dan kekuasaan. Untuk mewujudkan keinginan itu, mereka pun mengangkat Abdullah bin Yasin sebagai panglima perang. Kelompok ini kemudian melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Sahara Afrika dan menaklukan penduduknya.Usaha ekspansi ini bukan berarti tidak ada perlawanan sengit, penguasa Sijilmash bernama Mas’ud bin Wanuddin al-Magrawi melakukan perlawanan sengit, meskipun akhirnya gugur dalam pertempuran tersebut dan ibu kota Wadi Dar’ah direbut oleh kelompok Murabithun pada tahun 1055 M.
Sepeninggalan Yahya bin Umar dan Abdullah bin Yasin, kekuasaan kaum ribath digantikan oleh Abu Bakar dan Yusuf bin Tasyfin. Di tampuk kedua pemimpin ini, ekspansi kelompok Ribath telah sampai ke wilayah Aljazair. Warisan yang cukup luas tersebut diterima anaknya yang bernama Ali bin Yusuf bin Tasfin dan berhasil melanjutkan politik pendahulunya dengan mengalahkan anak Alfonso VI tahun 1108.

0 Response to "Peradaban Islam pada Masa Dinasti Murabhitun dan Muwahidun"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel