Pengertian Kalimat - Contoh, Ciri, Unsur, Struktur, Dan Jenis-Jenisnya Lengkap

Tahukah anda apa yang dimaksud dengan kalimat ??? Jika anda belum mengetahuinya anda tepat sekali mengunjungi gurupendidikan.com. Karena disini akan mengulas tentang pengertian kalimat, ciri-ciri kalimat, unsur-unsur kalimat, struktur kalimat, dan jenis-jenis kalimat beserta contohnya secara lengkap. Oleh karena itu marilah simak ulasan yang ada dibawah berikut ini.
contoh dan jenis kalimat

Pengertian Kalimat

  • Kalimat umumnya berwujud rentetan kata yang disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Setiap kata yang disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Setiap katatermasuk kelas atau kategori kata, dan mempunyai fungsi dalam kalimat. Pengurutan rentetan kata serta macam kata yang dipakai dalam kalimat menentukan pula macam kalimat yang dihasilkan.
  • Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya barupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, disertai dengan intonasi final. Kalimat berperan sangat penting dalam sebuah komunikasi karena kalimat harus mampu menyampaikan informasi, menanyakan sesuatu, atau bahkan mengekspresikan emosi manusia. Berikut ini adalah

beberapa pengertian kalimat menurut para ahli :

Pengertian kalimat menurut Keraf ( 1984:156) mendefinisikan kalimat sebagai satu bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap.

Pengertian kalimat menurut Dardjowidojo (1988: 254) menyatakan bahwa kalimat ialah bagian terkecil dari suatu  ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan. 

Pengertian kalimat menurut Slametmuljana (1969) menjelaskan kalimat sebagai keseluruhan pemakaian kata yang berlagu,  disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan; mungkin yang dipakai hanya satu kata, mungkin lebih.

Pengertian kalimat menurut Kridalaksana (2001:92) kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa;  klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dan sebagainya.

Menurut ahli tata bahasa tradisional dalam buku Chaer (1994:240), “kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap”.

Menurut Alwi dkk., (2000:311), “Dalam wujud tulisan, kalimat diucapkan dalam suara naik-turun dan keras-lembut disela jeda, diakhiri intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan, baik asimilasi bunyi maupun proses fonologis lainnya”.

Selain pendapat para ahli, dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara kebahasaan. Dalam wujud lisan, kalimat diiringi oleh alunan titinada, disela oleh jeda, diakhiri oleh intonasi selesai, dan diikuti oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat (P). Kalau tidak memiliki kedua unsur tersebut, pernyataan itu bukanlah kalimat melainkan hanya sebuah frasa. Itulah yang membedakan frasa dengan kalimat.[1]

Dari rumusan itu bias disimpulkan, bahwa yang penting atau yang menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final, sebab konjungsi hanya ada kalo diperlukan. Konstituen dasar itu biasanya berupa klausa. Jadi, pada sebuah klausa diberi intonasi final, maka akan terbentuk kalimat itu. Dari rumusan itu, bisa disimpulkan pula,bahwa konstituen dasar itu bisa juga tidak berupa klausa (karena dikatakan biasanya berupa klausa), melainkan bisa juga berupa kata atau frasa. Hanya mungkin status kekalimatannya tidak sama. Kalimat yang konstituen dasarnya berupa klausa tentu saja menjadi kalimat mayor atau kalimat bebas. Sedangkan yang konstituen dasarnya berupa kata atau frasa tidak dapat menjadi kalimat bebas melainkan hanya menjadi kalimat terikat. [2]

Jika diperhatikan benar konstituen yang terbentuk kalimat inti dalam Bahasa Indonesia, akan tampak bahwa salah satu konstituen itu memegang peran yang sangat besar dari yang lain. Konstituen itu seolah-olah menentukan konstituen lain yang mana yang boleh atau harus muncul dalam kalimat tersebut. Konstituen yang mempunyai peranan lebih itu dinamakan pusat, sedangkan konstituen lain yang wajib hadir dinamakan pendamping. Pada kalimat yang memakai verba, pusat adalah verba sedangkan pendamping adalah nomina.
[1] Harimurti Kridalaksana, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (cetakan ke III), (Jakarta: Balai Pustaka) hal.254.
[2] Abdul Chaer, Linguistik Umum, 2012, (Jakarta: Rineka Cipta) hal.140.

Ciri-Ciri Kalimat

  1.  Dalam bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan diakhiri dengan kesenyapan. DAlam bahasa tulis diawali huruf capital dan diakhiri dengan titik(.), tanda Tanya(?), dan tanda seru(!).
  2. Kalimat aktif sekurang-kurangnya terdiri atas subyek dan predikat.
  3. Predikat transitif disertai objek, predikat intransitive dapat disertai pelengkap.
  4. Mengandung pikiran yang utuh.
  5. Menggunakan urutan logis setiap kata atau kelompok kata yang mendukung fungsi (subjek, predikat, objek, dan keterangan) disusun dalam satuan menurut fungsinya.
  6. Mengandung, satuan makna, ide, atas pesan yang jelas.
  7. Dalam paragraph yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat-kalimat disusun dalam satuan makna pikiran yang saling berhubungan. Hubungan dijalin dalam konjungsi, pronominal atau kata ganti, repetisi, atau struktur sejajar.

Unsur-Unsur Kalimat

Setiap kalimat memiliki unsur penyusun kalimat. Gabungan dari unsur-unsur kalimat akan membentuk kalimat yang mengandung arti. Unsur-unsur inti kalimat antara lain SPOK :
  1. Subjek / Subyek (S)
  2. Predikat (P)
  3. Objek / Obyek (O)
  4. Pelengkap
  5. Keterangan (K)
Berikut ini adalah ciri serta contoh dari masing-masing unsur kalimat :
  1. Subjek / Subyek (S)
Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat, di samping unsur predikat. Dalam pola kalimat bahasa Indonesia, subjek biasanya terletak sebelum predikat, kecuali jenis kalimat inversi. Subjek umumnya berwujud nomina. Perhatikan contoh kalimat di bawah ini :
  • a)    Peserta audisi itu puluhan ribu orang.
  • b)   Dia datang dari Bogor.
  • c)    Agnes Monica adalah seorang penyanyi terkenal.
  • d)   Pak Aldy pergi ke Malaysia.
Dari contoh kalimat di atas, peserta audisi itu, dia, Agnes Monica dan Pak Aldy adalah contoh dari subjek. Selain itu ada pula subjek yang tidak berupa nomina. Perhatikan contoh di bawah ini :
  • a)    Berwudlu harus dilakukan sebelum sholat.
  • b)   Lima adalah sebuah angka.
  • c)    Sakit bisa dialami semua orang.
Ciri-ciri subjek :
–      Jawaban atas pertanyaan ‘apa’ atau ‘siapa’.
–      Disertai kata ‘itu’.
–      Didahului kata ‘bahwa’.
–      Mempunyai keterangan pewatas ‘yang’ (penghubung dengan menggunakan kata ‘yang’).
–      Tidak didahului preposisi seperti ‘dari’, ‘dalam’, ‘di’, ‘ke’, ‘kepada’, ‘pada’.
–      Berupa Nomina atau Frasa Nominal

  1. Predikat (P)
Predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat di samping subjek yang merupakan inti dari kalimat. Unsur pengisi predikat suatu kalimat dapat berupa Kata, misalnya verba, adjektiva, atau nominal, numeral dan preposisional. Selain itu dapat pula berupa Frasa, misalnya frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia (bilangan). Perhatikan beberapa contoh kalimat di bawah ini:

a. Qiqi belajar di kamar.
b. Ibu memasak tumis kangkung.
c. Aldy sedang membaca Koran.

Dari contoh di atas, kata belajar, memasak dan membaca merupakan contoh dari predikat.

Ciri-ciri predikat :
–      Jawaban atas pertanyaan ‘Mengapa’ atau ‘Bagaimana’.
–      Dapat berupa kata ‘Adalah’ atau ‘Ialah’.
–      Dapat diingkarkan  yang diwujudkan oleh kata ‘Tidak’.
–      Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas seperti ‘telah’, ‘sudah’, ‘sedang’, ‘belum’, ‘akan’, ‘ingin’, ‘hendak’, ‘mau’, dll.

  1. Objek (O)
Objek bukan unsur wajib dalam kalimat. Keberadaanya umumnya terletak setelah predikat yang berkatagori verbal transitif (kalimat aktif transitif) yang sedikitnya mempunyai tiga unsur utama, subjek, predikat, dan objek. Objek pada kalimat aktif akan berubah menjadi subjek jika kalimatnya dipasifkan. Demikian pula, objek pada kalimat pasif akan menjadi subjek jika kalimatnya dijadikan kalimat aktif. Objek umumnya berkatagori nomina. Berikut contoh objek dalam kalimat:

a. Adik bermain layangan .
b. Aldy membeli sebuah buku.
c. kelinci itu memakan wortel.
layangan, sebuah buku, dan wortel pada tiga kalimat di atas adalah contoh objek.
Ciri-ciri objek ini sebagai berikut:
–      Langsung di belakang predikat.
–      Dapat menjadi subjek kalimat pasif.
–      Tidak didahului preposisi.
–      Didahului kata ‘bahwa’.

  1. Pelengkap
Pelengkap dan objek memiliki kesamaan. Kesamaan pada ke dua unsur kalimat ini adalah : bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat, menempati posisi di belakang predikat dan tidak didahului preposisi. Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Contoh kalimat pelengkap :
  1. Indonesia berdasarkan Pancasila.
    b. Aldy ingin selalu berbuat kebaikan.
    c. Kaki Aji tersandung batu.
    d. Mahkota itu bertahtakan berlian.
Berikut ciri-ciri pelengkap:
–       Di Belakang Predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya terdapat pada kalimat berikut.
  1. a)   Anggi mengirimi saya buku baru.
  2. b)   Mereka membelikan ayahnya kacamata baru.
Unsur kalimat buku baru dan kacamata baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidak mendahului predikat.
–    Tidak Didahului Preposisi

  1. Keterangan
Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan. Keterangan ini dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa frasa ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang,oleh, dan untuk. Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung, seperti ketika, karena, meskipun,supaya, jika, dan sehingga. Berikut ini beberapa ciri unsur keterangan:

–      Bukan Unsur Utama (tidak bersifat wajib seperti subjek, predikat, objek dan pelengkap ).
–      Tidak Terikat Posisi (memiliki kebebasan tempat di awal/ di akhir , atau di antara subjek dan predikat).
–      Jenis Keterangan.

Keterangan dibedakan berdasarkan perannya di dalam kalimat.

  1. Keterangan Waktu
Keterangan waktu dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa kata adalah kata-kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin, besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan malam. Keterangan waktu yang berupa frasa merupakan untaian kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin pagi, hari Senin, 7 Mei, dan minggu depan. Keterangan waktu yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor yang menyatakan waktu, seperti setelah, sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.

Contoh : Minggu depan akan dilaksanakan ujian tengah semester.
  1. Keterangan Tempat
Keterangan tempat berupa frasa yang menyatakan tempat yang ditandai oleh preposisi, seperti di, pada, dan dalam.

Contoh : Super Junior akan konser di Indonesia.
  1. Keterangan Cara
Keterangan cara dapat berupa kata ulang, frasa, atau anak kalimat yang menyatakan cara. Keterangan cara yang berupa kata ulang merupakan perulangan adjektiva. Keterangan cara yang berupa frasa ditandai oleh kata dengan atau secara. Terakhir,  keterangan cara yang berupa anak kalimat ditandai oleh kata dengan dan dalam.

Contoh : Ibu memotong bawang dengan menggunakan pisau.
  1. Keterangan Sebab
Keterangan sebab berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan sebab yang berupa frasa ditandai oleh kata karena atau lantaran yang diikuti oleh nomina atau frasa nomina. Keterangan sebab yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor karena atau lantaran.

Contoh : Ibu menyuruhku cepat pulang karena cuaca sudah mendung.
  1. Keterangan Tujuan
Keterangan ini berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan tujuan yang berupa frasa ditandai oleh kata untuk atau demi, sedangkan keterangan tujuan yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor supaya, agar, atau untuk

Contoh : Sebelum berangkat ke sekolah, Ricky menyisir rambutnya agar terlihat rapi.

     6. Keterangan Aposisi
Keterangan aposisi memberi penjelasan nomina, misalnya, subjek atau objek. Jika ditulis, keterangan ini diapit tanda koma, tanda pisah (–), atau tanda kurang.
Contoh :  Dosen saya, Bu Margareta, terpilih sebagai dosen teladan.
  1. Keterangan Tambahan
Keterangan tambahan memberi penjelasan nomina (subjek ataupun objek), tetapi berbeda dari keterangan aposisi. Keterangan aposisi dapat menggantikan unsur yang diterangkan, sedangkan keterangan tambahan tidak dapat menggantikan unsur yang diterangkan.
Contoh : Rizaldi, mahasiswa tingkat tiga, mendapat beasiswa.
  1. Keterangan Pewatas
Keterangan pewatas memberikan pembatas nomina, misalnya, subjek, predikat, objek, keterangan, atau pelengkap. Jika keterangan tambahan dapat ditiadakan, keterangan pewatas tidak dapat ditiadakan.
Contoh : Mahasiswa yang mempunyai IP tiga lebih mendapat beasiswa.


Struktur Kalimat

Semua kalimat yang kita pakai berasal dari beberapa struktur ataupun pola kalimat dasar saja. Sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing, kalimat dasar tersebut bisa dikembangkan berdasarkan kaidah yang berlaku. Pola dasar kalimat bahasa Indonesia yaitu sebagai berikut :
1. Kalimat dasar berpola S P
Kalimat dasar semacam ini hanya mempunyai unsur subjek dan predikat. Predikatnya bisa berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, ataupun kata bilangan.
Contohnya :
Mobil itu besar.
S          P
2. Kalimat dasar berpola S P O
Pola kalimat ini sering kali dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Unsurnya ada subjek predikat dan objek.
Contohnya :
Ari mengemudikan mobil.
S                   P                   O

3. Kalimat dasar berpola S P Pel
Contohnya :
Keluarganya pergi liburan.
S                 P       Pel

4. Kalimat dasar berpola S P O Pel
Contoh :
Supir bus mengemudikan busnya sembarangan.
S                    P                            O                   Pel

5. Kalimat dasar berpola S P K
Contoh :
Andi menjahit tadi pagi.
S                P                  K
6. Kalimat dasar berpola S P O K
Contoh :
Indah  merapikan kamarnya seminggu lalu.
S                  P                     O                       K

7. Kalimat dasar berpola S-P-O-Pel-K
Kalimat dasar tipe ini mempunyai unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, keterangan.  Subjek berupa nomina atau frasa nominal, Predikat berupa verba dwitransitif, Objek berupa nomina atau frasa nominal, Pelengkap berupa nomina atau frasa nominal dan keterangan berupa frasa berpreposisi.
Contoh : Ayah membelikan Aldy sepatu baru di margo city

8. Kalimat dasar berpola  S-P-Pel-K.
Kalimat dasar tipe ini mempunyai unsur subjek, predikat, pelengkap dan keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, kata sifat  dan pelengkap berupa nomina atau adjektiva dan keterangan berupa frasa berpreposisi.

Contoh : Aku  sedih ketika mama masuk rumah sakit.

Jenis-Jenis Kalimat

Jenis kalimat itu dibedakan berdasarkan berbagi kriteria atau sudut pandang. Oleh karena itu, dalam kepustakaan linguistik dan berbagai buku tata bahasa kita dapati banyak sekali istilah untuk menamakan jenis-jenis kalimat, ini lah jenis-jenis kalimat :

Kalimat Dilihat dari Segi Maknanya

Jika kita tinjau dari segi maknanya (nilai komunikatifnya), maka kalimat terbagi menjadi lima kelompok, yakni (1) kalimat berita, (2) kalimat perintah, (3) kalimat tanya, (4) kalimat seru, dan (5) kalimat emfatik.
  • a. Kalimat Berita
Kalimat berita, yang sering pula dinamakan kalimat deklaratif, adalah kalimat yang isinya memberitakan sesuatu kepada pembaca atau pendengar. Jika suatu saat kita mengetahui ada kecelakaan lalu lintas dan kemudian menyampaikan peristiwa itu kepada orang lain, maka kita memberitakan kejadian itu. Kalimat berita dapat bermacam-macam, sebagai berikut:
  1. Kemarin sore ada angkutan kota menabrak pengendara motor.
  2. Pada pagi terjadi kecelakaan beruntun yang menyebabkan kemacetan lalu lintas.
  3. Banjir yang terjadi di Bekasi merendam perumahan warga.
  4. Terjadi kebakaran besar di pasar Obor Jakarta Timur.
Dari segi bentuknya, kalimat diatas bermacam-macam. Ada yang memperlihatkan inversi, ada yang berbentuk aktif, ada yang pasif, dan sebagainya. Akan tetapi, jika dilihat nilai komunikatifnya, maka kalimat diatas adalah sama, yakni semua merupakan kalimat berita.

Dengan demikian, kalimat berita dapat berupa bentuk apa saja. Asalkan isinya merupakan pemberitaan. Dalam bentuk tulisnya, kalimat berita diakhiri dengan tanda titik. Dalam bentik lisan, nada suara berakhir dengan nada turun.

  • b.Kalimat Perintah
Kalimat perintah, atau kalimat imperatif, adalah kalimat yang maknanya memberikan perintah untuk melakukan sesuatu.

Kalimat yang dapat memiliki bentuk perintah pada umumnya adalah kalimat taktransitif atau transitif (baik aktif maupun pasif). Kalimat yang predikatnya adjektiva kadang-kadang dapat juga memiliki bentuk perintah, bergantung pada macam adjektivanya. Sebaliknya, kalimat yang bukan verbal atau adjektival tidak memiliki bentuk perintah. Berikut contoh kalimat perintah.
  1. Buatlah satu kalimat yang berpola SPOK!
  2. Pergilah ke sekolah!
Dalam bentuk tulis, kalimat perintah seringkali diakhiri dengan tanda seru (!) meskipun tanda titik biasa pula dipakai. Dalam bentuk lisan, nadanya agak naik sedikit.
  • c. Kalimat Perintah Taktransitif
Kalimat perintah traktransitif dibentuk dengan mengikuti kaidah berikut.
  1. Hilangkan subjek, yang umumnya berupa pronomina persona kedua.
  2. Pertahankan bentuk verba seperti apa adanya.
  3. Tambahlah partikel –lah bila dikehendaki untuk sedikit memperhalus isisnya. Dari contoh berikut.
  4. Anda naik bus kota sekali-kali.
  5. Naik bus kota sekali-kali!
Naiklah bus kota sekali-kali!
  1. Kamu berlibur ke tempat nenekmu.
  2. Berliburlah ke tempat nenekmu!
Baik verba traktransitif yang berupa kata dasar (naik), maupun yang turunan (berlibur), tidak mengalami perubahan apa-apa.

  • d. Kalimat Perintah Transitif Aktif
kaidah untuk membuat kalimat perintah yang verbanya transitif mirip dengan kaidah yang untuk taktransitif kecuali mengenai bentuk verbanya. Pada kalimat transitif, verbanya harus diubah menjadi bentuk perintah terlebih dahulu dengan menanggalkan prefiks meng- dari verbanya. Kalimat (a) adalah kalimat berita, sedangkan kalimat (b) kalimat perintah.
  1. Engkau mencari pekerjaan apa saja.
  2. Carilah pekerjaan apa saja.

  1. Kamu membelikan adikmu seatu baru.
  2. Belikanlah adikmu sepatu baru.

  1. Saudara memberangkatkan kereta itu sekarang.
  2. Berangkatkan kereta itu sekarang.
Perlu kiranya diperhatikan bahwa yang dihilagkan hanyalah prefiksnya saja, sedangkan sufiksnya masih tetap dipertahankan. Jika prefiksnya terdiri atas dua unsur, seperti memper- atau member- maka hanya mem-nya yang dihilangkan.

  • e. Kalimat Perintah Bentuk Pasif
Kalimat perintah dapat pula dinyatakan dalam bentuk pasif. Bentuk verbanya masih tetap dalam bentuk pasif, dan urutan katanya juga tidak berubah. Dalam bentuk tulis, bentuk itu ditandai lagi dengan tanda baca seru (!). Sedangkan dalam bentuk lisan dengan nada yang agak naik.
  1. Kontrak ini dikirim sekarang!
  2. Konsep perjanjian itu diketik serapi-rapinya, ya!
  3. Dijual saja mobil tua seperti itu.
Pemakai bentuk pasif dalam kalimat perintah sangat umum dalam bahsa Indonesia. Hal itu mungkin berkaitan dengan keinginan penutur untuk meminta agar orang lain melakukan sesuatu untuknya, tetapi tidak tidak secara langsung.

  • Penghalus Kalimat Perintah
Disamping bentuk pasif yang baru saja dibicarakan, bahasa Indonesia juga memiliki sejumlah kata yang dipakai untuk menghaluskan perintah. Kata seperti tolong, coba, dan silahkan sering dipakai untuk maksud itu.
  • Bentuk Ingkar pada Kalimat Perintah
Kalimat perintah dapat dibuat ingkar dengan memakai kata jangan. Sebagai mana tolong dan coba, jangan juga dapat ditempel partikel –lah dalam kalimat perintah. Contoh:
  1. Jangan dibuang dokumen itu.
  2. Janganlah dokumen itu dibuang.
  3. Jangan pergi sekarang.
  4. Janganlah pergi sekarang.

  • Kaliamat Tanya
Kalimat tanya, yang juga dinamakan kalimat interogatif, adalah kalimat yang isisnya menanyakan sesuatu atau seseorang. Jika orang ingin mengetahui jawaban terhadap suatu masalah atau keadaan, maka ia menanyakannya dan kalimat yang dipakai adalah kalimat tanya.

Ada lima cara untuk membentuk kalimat tanya: (1) dengan menambahkan kata apa(kah), (2) dengan membalikan urutan kata, (3) dengan memakai kata bukan atau tidak, (4) dengan mengubah intonasi kalimat, dan (5) dengan memakia kata tanya.
  • Kalimat seru
Kalimat seru, yangjuga diamakan kalmat interjektif, adalah kalimat yang mengungkap perasaan kagum. Karena rasakagum berkaitan, maka dengan seru


2. Berdasarkan diathesis kalimat
a. Kalimat Aktif

Kalimat yang subjeknya langsung melakukan pekerjaan terhadap objeknya. Kata kerja kalimat aktif umumnya ditandai oleh awalan me-. Tapi tidak sedikit kalimat aktif yang predikatnya tidak disertai imbuhan tersebut misal, makan dan minum.
Contohnya : Ani menggunakan kaleng untuk menciptakan bunyi.
b. Kalimat Pasif
Kalimat pasif kata kerjanya cenderung memakai di- atau ter-.
Contohnya : Bangunan itu dikerjakan dengan baik oleh para teknisi ternama.
3. Berdasarkan urutan kata

a. Kalimat Normal
Kalimat yang subjeknya mendahului predikatnya. Kalimat berpola dasar
b. Kalimat Inverse
Kalimat ini jenis ini adalah kebalikan dari kalimat normal. Dimana predikatnya mendahului objek.
c. Kalimat Minor
Kalimat yang mempunyai satu inti fungsi gramatikalnya. Bentuk kalimat minor seperti kalimat tambahan, kalimat jawaban, kalimat salam, panggilan maupun judul.
d. Kalimat Mayor
Kalimat mayor hanya mempunyai subjek dan predikat. Objek, pelengkap dan keterangan boleh ditambahkan sesuka hati. Sama seperti pola dasar pertama.
4. Berdasarkan struktur gramatikalnya

a. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal hanya mempunyai Subjek dan Predikat. Bila dilihat dari unsur penyusunnya, kalimat yang panjang dalam bahasa indonesia bisa dikembalikan ke bentuk dasar yang sederhana.
Contoh kalimat tunggal : 
Bapak-bapak bersalaman
S                         P
Pola contoh kalimat diatas hanya mempunyai subjek dan predikat sehingga termasuk kedalam kalimat tunggal.

b. Kalimat Majemuk
Orang-orang sering kali menggabungkan beberapa pertanyaan ke dalam satu kalimat untuk memudahkan dalam berkomunikasi. Hasilnya, lahirlah penggabungan struktur kalimat yang didalamnya terdapat beberapa kalimat dasar. Penggabungan inilah yang dinamakan kalimat majemuk. Kalimat majemuk ini masih terbagi lagi dalam beberapa jenis, yaitu sebagai berikut :
  • Kalimat Majemuk Setara
    Struktur kalimat ini mempunyai dua kalimat tunggal atau lebih yang bila dipisahkan bisa berdiri sendiri. Kata penghubung kalimat majemuk setara biasanya digunakan kata dan, serta, tanda koma (,), tetapi, lalu, kemudian, atau. Contoh kalimat majemuk setara : Indonesia tergolong negara berkembang tetapi Jepang telah digolongkan negara maju.
  • Kalimat Majemuk Bertingkat
    Kalimat majemuk bertingkat mempunyai dua kalimat yang satunya bisa berdiri sendiri (induk kalimat) atau bebas sedangkan yang satunya lagi tidak(anak kalimat). Kata penghubung yang dipakai dalam kalimat majemuk ini yaitu ketika, sejak, karena, oleh sebab itu, hingga, sehingga, maka, jika, asalkan, apabila, meskipun, walaupun, andai kata, seandainya, agar supaya, seperti, kecuali, dengan. Contoh kalimat majemuk bertingkat : Ilmuan masih saja mencari asal usul bulan
    (induk kalimat) meskipun hingga sekarang masih belum ada kepastian yang jelas (anak kalimat).
  • Kalimat Majemuk Campuran
    Kalimat majemuk campuran adalah dua jenis kalimat majemuk (setara dan bertingkat) yang digabungkan.
    Karena hujan turun dengan derasnya, kami tidak dapat pulang dan menunggu di sekolah.

5. Berdasarkan unsur kalimat
a. Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap mengikuti pola dasar dari kalimat baik yang sudah dikembangkan maupun tidak. Penggunaan unsur-unsurnya jelas. Sehingga mudah dipahami. Contoh : Warna merah melambangkan keberanian
b. Kalimat tidak Lengkap
Kalimat yang satu ini tidak sempurna karena hanya memiliki salah satu dari unsurnya saja. Kalimat ini biasanya berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, setuan, larangan, sapan dsb. Contoh : Kapan pulang?
6. Berdasarkan Pengucapan

a. Kalimat Langsung
Kalimat yang secara detai meniru sesuatu yang diujarkan oranglain. Tanda baca kutip tidak luput dalam jenis kalimat langsung. Kutipan dalam kalimat langsung berupa kalimat tanya, kalimat berita ataupun kalimat perintah.
Contohnya : “Letakkan senjatamu!” bentak pak polisi.
b. Kalimat Tak Langsung
Kalimat yang melaporkan kembali kalimat yang diujarkan orang lain. Kutipan dalam kalimatnya senmuany berbentuk berita.
Contohnya : Bapak Budi berkata padaku bahwa lebih baik membaca daripada main-main.

Semoga apa yang diulas diatas bermanfaat bagi pembaca. Sekian dan terimakasih.

[*] tags :  pengertian kalimat menurut para ahli, ciri ciri kalimat, pengertian kalimat efektif, pengertian kalimat tunggal, pengertian kalimat semitransitif, pengertian jenis kalimat, pengertian kalimat dan jenis-jenis kalimat, pengertian kalimat dasar

0 Response to "Pengertian Kalimat - Contoh, Ciri, Unsur, Struktur, Dan Jenis-Jenisnya Lengkap"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel