Panglima Besar Jenderal Soedirman

Tamanilmu.com - Tahukah kamu siapakah Panglima Besar Jenderal Soedirman? 
Soedirman adalah salah seorang dari sekian banyak pahlawan nasional yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.Ia merupakan tokoh pejuang dalam perang mempertahankan kemerdekaan 1945-1949. Berikut urian tentang Pejuangan dan perjalanan hidup tokoh yang dikenal sebagai"Bapak Tentara Indonesia" tersebut.
 

Masa Kecil dan Pendidikan
    Soedirman dilahirkan pada 24 Januari 1916 di Desa Bantarbarang,Kecamatan Rembang,Kabuapten Purbalingga,di kaki Gunung Slamet,Jawa Tengah.Ayahnya yang bernama Karsid Kartiwiraji adalah seorang mandor di sebuah pabrik tebu di daerah Purmokerto.Adapun ibunya yang bernama Sijem adalah seorang wanita Desa biasa.
  Sejak bayi Soedirman diangkat sebagai anak oleh pamannya yang bernama Raden Tjokrosoenarjo.Raden tjokrosoenarjo adalah seorangasisten wedana di Rembang.Soedirman memperolah pendidikan di Hollands Inlandse School( HIS ),Taman Siswa,kemudian pindah ke sekolah Meer Uitgebreid Lage Onderwijs ( MULO ) Wiworo Tomo dan tamat pada 1924. Jiwa militansinya tertempansejak ia masuk Hizbulwatthon (Kepanduan Muhammadiyah).Dalam organisasi ini Soedirman menunjukkan diri sebagai pandu yang berdisiplin,militan, dan bertanggung jawab.
    Meskipun sejak kecil dididik dan dibesarkan di kalangan keluarga pamong praja,Soedirman tidak memiliki cita-cita menjadi pegawai pamong praja.Soedirman malah melanjutkan pendidikan ke Kweekschool (sekolah guru) Muhammadiyah di solo setelah tamat dari Wiworo Tomo.
selanjutnya,ia diangkat menjadi guru di HIS Muhammadiyah tempat ia mengembangkan kegemarannya kepada pelajaran bahasa Indonesia,ilmu pasti,dan sejarah.Dalam lingkungan pendidikan di sekolah tersebut itulah benih-benih cinta Soedirman terhadap tanah air mulai tertanam.
     Sejak diangkat menjadi kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah,ia mampu menciptakan hubungan yang eratantarsesama rekannya.Ia bersikap ternuka dan siap memberi petujuk maupun jalam terhadap tanah setiap masalah yang dihadapi sesama guru.Pada 1936,Soedirman menikah dengan Alfiah,teman sekolah sewaktu bersekolah di Taman Siswa Purwokerto.Dari perkawinannya tersebut,Soedirman dikarunia tujuh orang anak.

Awal Karier Militer 
    Pada masa awal pendudukan jepang di Indonesia,Soedirman yang memiliki bakat sebagai pengajar berusaha mendapatkan izin pemerintah Jepang Untuk membuka kembali sekolah Muhammadiyah.Usahanya berhasil setelah mengalami berbagai kesulitan.Bberapa mengikuti latihan militer pada saat jepang membentuk tentara pembela Tanah Air (Peta).


Pengetahuan dan keterampilan teknik militer yang diperolehnya dari lembaga pendidikan perwira Peta di Bogor,sangatlah minim.Tetapi manfaat besar yang diperolahnya dari pendidikan tersebut adalah kepercayaan kepada siri sendiri di ambang kemerdekaan bangsanya.
    Seusai mengikuti latihan pendidikan perwira  Peta di Bogor,Soedirman diangkat menjadi daidancho(Komandan Batalion ) Peta di Kroya.Dalam jabatannya ini,ia mempraktikkan ilmu yang didapatnya tersebut dalam suatu satuan militer yang sungguh-sungguh.Ternyata,ia merasa memiliki bakat untuk berkecimpung dalam dunia militer.Gaya kepemimpinan yang memadukan antara disiplin militer dan pendekatan informasi menjadikan Soedirman sangat dihormati dan disegani.Ia juga sangat memperhatikan kesejahteraan para prajurit abaj buahnya.Kadangkala Soedirman bersitegang denagn para pengawas Jepang untuk membela kepentingan bawahannya.Kerana sikapnya ini,ia sering dicurigai aparat pengawas pemerintah Jepang.       

Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 
     Ketika Revolusi Kemerdekaan meletus, Soedirman yang sedang berada di jawa Barat bergegas pulang ke Banyumas.Di daerah ini Soedirman mengambil langkah-langkah untuk menyusun organisasi Badan Keamanan Rakyat (BKR). Bdan yang telah diumumkan pendiriannya oleh pemerintah pada 22 Agustus 1945 ini menghimpun  para anggota bekas satuan-satuan militer pada zaman Jepang,antara lain Peta,Heiho,Seinendan,Kaigun,dan Keisatsutai(polisi).


Tindakan pertama dalam kapasitasnya sebagai Kepala BJR Karesidenan Banyumas adalah bersama Mr.Iskaq Tjokrohadissuryo yang baru saja diangkat sebgai Residen Banyumas oleh pemerintah RI mengadakan diplomasi dengan komandan batalyon Jepang setempat.Perundingan tersebut menghasilkan penyerahan semua senjata api tentara Jepang yang ada di Karesidenan Banyumas tanpa harus memberikan korban nyawa.Hal ini merupakan prestasi tersendiri mengingat di daerah lain masalah yang menyangkut persenjataan tentara Jepang ini pada awal-awal Revolusi Kmerdekaan banyak meninbulkan pertumbuhan darah.
   Seperti halnya para Kepala BKR di berbagai karesidenan lainnya,ketika pemerintah mengumumkan pendidian Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945,Soedirman menggabungkan satuan-satuan BKR di banyumas menjadi satuan-satuan Tentara Keamanan Rakyat(TKR).Semua satuan TKR yang berada di Banyumas tersebut kemudian dipersatukannya ke dalam satu formasi yang kemudian ditetapkan menjadi V Banyumas.Soedirman menjadi panglimanya dengan pangkat kolonel.

Palagan Ambarawa
   Jima kepemimpinan Soedirman dalam dunia militer teruji kembali ketika dalam jabatannya sebagai panglima Divisi V Banyumas berhasil menerapkan "strategi supit urang" untuk mengalahkan dan mengusir tentara Sekutu dari daerah Ambara ke Semarang pada Desember 1945.Peristiwa yang dikenal sebagai Palangan Ambarawa itu dicatat dengan tinta emas dalam sejarah perang kemerdekaan Indonesia.Untuk mengenang peristiwa tersebut,Setiap tanggal 12 Desember diperingati sebgai Hari Infantri.

  

Landasan Kejiwaan Tentara Nasional Indonesia
    Di tengah suasana tanah air yang genting karena banyaknya pertempuran dengan pihak Jepang dan Sekutu,di Yogyakarta diselenggarakan Konferensi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 12 November 1945.Hasil Konferensi tersebut memilih kolonel soedirman,Panglima Divisi V/Banyumas sebagai pemimpin tertinggi TKR,sedangkan sebagai kepala Staf dipilih Oerip Soemohardjo.Namun,pengangkatan kolonel Soedirman dalam jabatan tersebut baru terlaksana setelah pertempuran Ambarawa selesai.

   Pada 18 Desember 1945,Pemerintah mengangkat secara resmi Kolonel Soedirman sebagai Panglima Besar TKR dengan pangkat Jenderal.Sebagai Kepala Staf TKR diangkat Oerip Soemohardjo dengan pangkat Letnan Jenderal.
Sejak saat itu mulailah diletakkan landasan-landasan awal bagi kehidupan TKR sebagai tentara nasional bangsa Indonesia.Jenderal Oerip meletakan landasan teknis militer,sedangkan Jenderal Soedirman meletakkan landasan kejiwaannya.

Kepemimpinan Jenderal Soedirman
    Duet kepemimpinan Jenderal Soedirman dan Letnan Jenderal Oerip Soemoherdjo dalam memimpin TKR membawa dampak yang positif bagi perkembangan dan pertumbuhan tentara nasional pada masa-masa awal.Walaupun tugas kedua tokoh ini tidaklah gampang karena harus menata satuan-satuan tentara yang sudah terbentuk secara spontan dan dari bawah dalam suasan revilusional yang hiruk Pikuk,disiplin, dan Ketertiban masih Sukarr dicari.


Dalam Kondisi seperti inilah bakat kepemimpinan Soedirman tampak efektif.Menghadapi tugas penertiban organisasi suatu tentara yang masih jauh dari profesionalisme maka nonprofesionalisme,Fleksibel dapat mengisi mengisi profesionalisme yang kuat pada diri Oerip Soemohardjo.
Selain itu,usai Soedirman yang relatif masih muda (29 tahun ) ketika terpilih menjadi panglima Besar,merupakan suatu aset dalam menghadapi para panglima bawahannya yang rata-rata masih berusia muda dan bersikap emosional.soedirman merupakan sosok yang bisa menenangkan dan menstabilkan mereka.
Sejak 1946,mulai terkenallah amanat-amanat Panglima Besar yang isi dan nadanya khas berisi soal-soal nasional yang menyangkut pertanahan dan angkatan perang."Anak-anakku segenap anggota polisi Negara serta seluruh anggota Laskar dan barisan perjuangan..." masa permulaan kemerdekaan.Hal itu menggambarkan pula tradisi hubungan antara Bapak dan Anak yang terdapat dalam lingkungan TNI yang masih hidup hingga sekarang antara Komandan dan anak buah.


Perundingan Linggajati
   Perundiangan Linggajati (10 November 1946-25 Maret 1947) diselenggarakan di Kuningan,Jawa Barat.Perundingan ini berada di bawah pengawasan Lord Killern.Perundingan berjalan alot karena masing-masing pihak tidak mau dirugikan.pada 15 November 1946,perundingan menghasilkan kesempatan sebagai berikut :
  1. RI dan Belanda sepakat bekerja sama membentuk negara indonesia Serikat dengan Republik Indonesia sebagai salah Satu Negara bagiannya.
  2. RIS dan Kerajaan Belanda terkait dalam Uni Indonesia-Belanda ( Commonwealth) dengan Belanda sebagai kepala Uni.
  Hasil Perundingan Linggajati ditandatangani pada 25 Maret 1947 oleh pihak Indonesia dan belanda.Sebagai kelanjutan dari hasil Perundingan Linggajati,pihak Belanda kemudian membentuk negara-negara bagian RIS.Belanda membentuk Negara Indonesia Timur (NIT), Negara Pasundan,Negara Jawa Timur,dan negara-negara boneka lainnya.


Pada 15 juli 1947,Belanda kembali mengeluarkan ultimatum.kali ini belanda mengancam akan melakukan serangan terhadap RI jika tuntutannya tidak dilaksanakan selam 32 jam.Pada 17 Juli 1947,pemerintah RI melalui Perdana Menteri Amir Syarifudin menjawab tuntutan Belanda dengan menolak semua ultimatum Belanda tersebut.Penolakan ultimatum tersebut mengakibatkan penyerangan besar-bsaran terhadap pusat-pust kekuasaaan RI oleh Belanda pada 21 Juli 1947.Penyerangan tersebut dikenal dengan Agresi Militer Belanda I.

Agresi Militer Belanda I
    Pada November 1946,pasukan Sekutu (Inggris)ditarik dari Indonesia.Sejak saat itu,Belanda yang pada awalnya masih bernaung di bawah perlindungan Inggris,mulai dihadapi secara langsung oleh pihak Indonesia.
    Setelah terjadi pertempuraan-pertempuran berbatas di berbagai wilayah tanah air, pada 21 Juli 1947 tentara Belanda menyerbu ke daerah-daerah Republik secara besar-besaran.Aksi yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I tersebut merupakan pelanggaran perjanjian Linggajati yang sebenarnya telah ditandatangani oleh RI dan Belanda pada 25 Maret 1947.Aksi ini ditujukan terutama untuk menguasai Daerah-Daerah strategis dan bernilai ekonomis di Jawa dan Sumatra.
    Pulau Jawa Digempur dengan pasukan bersenjata lengkap dan moden yang terdiri atas tiga divisi,sedangkan di Sumatra Belanda mengerahkan tiga brigade.Untuk menguasai jawa barat,Balanda mengerahkan dua divisi di antaranya melanjutkan serangn ke jawa Tengah.Adapun di jawa Timur,didaratkan satu divisi.


   Aksi Agresi Militer Belanda I merupakan pukulan telak yang harus diterima oleh Angkatan Perang RI.Dalam melaksanakan aksinya,tentara Belanda hampir dapat dikatakan tidak mendapatkan perlawanan yang berarti.Wilayah-wilayah strategis dan ekonomis di pulau Jawa dan Sumatra yang awalnya dikuasi RI secara muda dan cepat jatuh ke tangan tentara Belanda.
   Jenderal Soedirman pada waktu itu belum itu belum selesai dengan konsolidasi Angkatan Perang.Meskipun saat itu satuan-satuan TKR,laskar,dan badan-badan perjuangan telah disatukan ke dalam satu wadah Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947,usia penyatuan tersebut baru satu bulan sehingga masih dalam tahap pembenahan dan konsolidasi.Selain itu,TNI dalam praktiknya masih menggunakan sistem pertahanan linier yang ternyata tidak dapat menahan gempuran Belanda yang memiliki persenjataan dan alat perang yang jauh lebih kuat.

Perang Rakyat Semesta
   Agresi Militer Belanda I terhenti karena adanya tekanan dari PBB dan dunia internasional.Dalam kenyataannya,TNI tidak berhasil menahan musuh pada berbagai medan pertempuran.Namun,pengalaman pahit tersebut menjadi  bahan bagi para pemimpin Angkatan Perang untuk merumuskan sistem pertahanannya yang baru yang dikenal dengan nama Perang Rakyat Semesta.
    Dalam sistem pertahanan Perang Rakyat semesta prinsip linier sudah tidak digunakan lagi dan diganti dengan susunan wehrkreis atau lingkungan pertahanan yang berlandasakan desa sebagai satuan pertahanan terkecil dan kecamatan sebagai unti pertahanan militer terendah.Jenderal Soedirman beserta stafnya yang diperkuat oleh Kolonel A.H. Nasution yang kemudian diangkat menjadi wakil Soedirman selaku Wakil Panglima Angkatan Perang Mobil merangkap Panglima Tentara Perang Untuk mengantisipasi adanya serangan terbaru dari tentara Belanda.


Agresi Militer Belanda II
    Pada 18 Desember 1948,Jenderal Soedirman menerima Kolonel T.B. Simatupang Sambil berbaring di tempat tidur.Kolonel Simatupang yang menjabat sebagai Wakil Staf Angkatan Perang (KSAP) melaporkan perkembangan situasi politik dan militer yang semakin genting.Hari itu Jenderal Soedirman mengumumkan bahwa pimpinan APRI Kembali berada di tangannya.
Pada 19 Desember  1948 pukul 05.30,Jenderal Soedirman menerima laporan tentang serangan Belanda terhadap ibu kota RI Yogyakarta.Beberapa hari sebelumnya,berdasarkan pertimbangan keamanan dan kesehatan,Jenderal Soedirman sebenarnya diminta oleh stafnya untuk meninggalkan Yogyakarta.Namun,saat itu Jenderal Soedirman mengatakan ia baru meninggalkan kota apabila bom pertama musuh telah dijatuhkan karena meninggalkan kota pada saat sebelumnya dapat diartikan sebagai tindakan sebagai tindakan melarikan diri.
    Setelah mendengar laporan tersebut,Jenderal Soedirman kemudian memberi instrusi kepada ajudannya,yaitu Kapten Soepardjo Rustam untuk menyampaikan perintah kilat kepada segenap anggota Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) agar melancarkan perang gerilya terhadap Belanda.Perintah kilat itu diumumkan Perintah kilat,Jenderal Soedirman bersama rombongan kemudianmeninggalkan ibu kota Yogyakarta sekitar pukul 14.30.
Sementara itu,Pesawat-pesawat Belanda telah mengebom sasaran-sasaran penting dan tentaranya mulai memasuki ibu kota Yogyakarta.Soekarno-Hatta dan beberapa pemimpin RI lainnya yang saat itu berada di Yogyakarta dalam perkembangan kemudian ditangkap oleh tentara Belanda.
 


Perjuangan Dengan Gerilya
    Jenderal Soedirman Berangkat dalam keadaan Fisik Sangat lemah.Rombongannya terdiri atas 2 ajudan dan 1 dokter pribadi (dr. Suwondo), satu kompi pasukan pengawal,ditambah beberapa orang yang bukan anggota staf pribadi Jenderal Soedirman,antara lain Mohammad Yunus dan Harsono Tjokroaminoto.Ajudan yang pertama bersama dokter pribadi bertugas mengawasi kondisi kesehatan Jenderal Soedirman,sedangkan ajudan lainnya,Kapten Soepardjo Rustam,menjalin hubungan dengan markas komando di daerah-daerah yang akan dimulai rombongan Jenderal Soedirman.Bertindak sebagai Komandan Kompi Peangawal adalah Kapten Tjokropranolo.


Pada saat-saat terakhir bergerilya,kesehatan Panglima Besar Jenderal Soedirman semakin menurun sehingga beliau terpaksa harus ditandu untuk meneruskan gerilya.


















Setelah  bergerilya selama hampir tujuh bulan,akhirnya pada 10 Juli 1949 Panglima Besar Jenderal Soedirman kembali ke Yogyakarta.Hal ini dimungkinkan karena telah diperoleh kesepakatan mengenai pokok-pokok pelaksanaan genjatatan dan kembalinya pemerintah RI ke Yogyakarta pada 22 Juli 1949 sesuai dengan hasil dari perjanjian Roem-Royen yang telah ditandatangani pada 7 Mei 1949.


Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta,Panglima Besar Jenderal Soedirman beserta rombongan mendapat sambutan yang hangat dari rakyat di setia desa yang dilaluinya.
Panglima Besar Jenderal Soedirman mempimpin perjuangan gerilya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.Wilayah gerilyanya mencakup daerah Yogyakarta dan sekitarnya, Jawa Tengah,hingga Jawa Timur. Daerah-Daerah yang dilaluinya adalah Desa Grogol, Panggang, Palihan, Playen, Semanu, Pracimantoro di lereng Gunung Wilis, Desa jambu, Desa Wayang Banyutomo, Sedayu, Warungsung, Gunung Tukul, Ngundong, Sawo,Tumpakpelem, Longsor, Suruhwetan, Dongko, Panggul, Bedak, Nogosari di daerah Pacitan, Desa Prigapus, Gebyur, Nawungan di surakarta, Desa Ngambari, dan Desa Sobo.



Menderita TBC
  Sejak meletusnya pemberontakan PKI di Madium pada September 1948, kesehatan Soedirman terganggu. Bahkan kira-kira 80 hari seblum Belanda melancarkan agresi militer yang kedua,Jenderal Soedirman sudah tidak dapat bangkit dari tidurnya.Saat itu, Dokter-dokter tentara,Seperti dr. Salamoe, dr. Soewondo, dr. Soetarto, dr. Oetojo, dan  dr, Soemadji melakukan pemeriksaan terhadap penyakit Jenderal Soedirman.Hasil pemeriksaan tersebut Untuk menguatkan hasil pemeriksaan tersebut,tim dokter meminta bantuan dokter senior dan lebih berpangalaman.Dokter yang diminta bantuannyaa adalah Prof.Dr.R.D. Asikin Widjajakusuma dan dr, Sum Ki Ay. Namun, hasil pemerikssaan kedua dokter senior ini ternyata sam dengan hasil pemeriksaan dokter terdahulu.
Menurut pemeriksaan dokter-dokter tersebut, penyakit  yang diderita  Jenderal Soedirman sendiri hingga saat wafatnya tidak pernah diberitahu tentang penyakit yang sedang dideritanya itu.Ia kemudian menjalani frenikotomi, yaitu operasi untuk mengistirahatkan salah satu paru-paru sebelah kanan.





0 Response to "Panglima Besar Jenderal Soedirman"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel