Peran Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara dalam menyebarkan Islam

tamanilmu.com - Masuknya Islam di Indoensia dipercepat dengan berdirinya kesultanan-kesultanan Islam di Indonesia. Mula-mula berdiri kesultanan Islam di pulau Sumatra yaitu di Samudra Pasai dan Aceh . Kemudian berdiri kesultanan Islam di pulau Jawa yaitu di Demak, Pajang, Mataram, Banten, dan Cirebon. Kesultanan Islam juga berdiri di pulau Sulawesi seperti di Goa, Tallo,Bone,Wajo, Sopeng, dan Lawu. Di kepulauan Maluku JUga berdiri kesultanan Islam seperti di Ternate dan Tidoer. Untuk mendapatkan gambaran atas peran masing-masing kesultanan Islam tersebut dalam menyebarkan Islam di Nusantara ikutilah uraian artikel di bawah ini :

1. Kerajaan Islam di Pulau Sumatra

a.  Kesultanan Samudra Pasai
     Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia . Kerajaan Samudra Pasai  berdiri pada abad ke-13, tepatnya pada 1285 M. Kerajaan ini terletak di pasai, Lhokseumawe, pantai timur laut Sumatra di ujung utara. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh seorang Laksamana Angkatan Laut dari Mesir bernam Nazimuddin Al-Kamil. Ia lalu mengangkat Marah Silu sebagai sultan pertama. Setelah dilantik sebagai sultan, Marah Silu bergelar Sultan Malik As-Saleh.
     Sepeninggal Sultan Malik As-Saleh,Kerajaan Samudra Pasai diteruskan oleh Sultan Malik Tahir, anaknya. Sultan Malik Tahir adalah sultan yang taat beragama dan giat berdakwah. Baginda membangun mesjid dan banyak meunasah/ surau di seluruh pelosok negeri. Dengan demikian, Islam tersebar sampai ke desa-desa.
     Pada masa pemerintahan Sultan Malik Tahir inilah Kerajaan Samudra Pasai mengalami kejayaan. Rakyat mengalami kemakmuran dan kehidupan beragama semarak. Hal ini dilukiskan oleh seorang musafir, Ibnu Batutah dari Maroko yang membuat catatan dalam buku hariannya sebagai berikut : Sultan adalah pengikut agama Islam yang saleh. Baginda dan rakyatnya adalah pengikut Mazhab Syafi'i. Pada Jum'at, Baginda pergi ke masjid dengan berjalan kaki yang diikuti oleh rakyatnya. Saat pulang dari masjid,Baginda menungggang gajah dengan beberapa pengawalan saja. Rakyat sangat menghormati sultannya. Kehidupan Rakyat Tampak Makmur."
    Setelah Sultan Malik Tahir meninggal, Kerajaan Samudra Pasai diteruskan oleh Zainal Abidin, anaknya. Pada masa pemerintahannya Zainal Abidin, Kerajaan Samudra Pasai mengalami kemunduran. Hal ini terjadi karena adanya persaingan di antara keluarga istana yang menyebabkan salah urus pemerintahan. Akibatnya daerah-daerah di bawah kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai berusaha melepaskan diri dengan cara melakukan pemberontakan. Di sampaing itu, juga terjadi serangan dari Majapahit yang melakukan politik perluasan wilayah ke seluruh Nusantara. Pada abad-15 nama Kerajaan Samudra Pasai sudah tidak terdengar lagi.

b.  Sesultanan Aceh
     Pada abad ke-16 muncul Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh terletak di Kotaraja, Banda Aceh. Semula, Kerajaan Aceh sebuah kerajaan kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Pedir. Seiring dengan dikuasainya Malaka oleh Portugis pada 1511, banyak ulama dan perjuangan Islam di Kerajaan Malaka mencari suaka politik di Kerajaan Aceh ini. Dalam perkembangan berikutnya, Kerajaan Aceh menjadi sebuah kerjaan yang makin kuat karena didukung oleh banyak perjuang dan orang cerdik cendekia.
     Siltan Ali Mugayat Syah mulai menata pemerintahannya. Pejabat yang mengurus bidang agama mendapat perhatian. Penghulu,imam masjid, imam surau/ meunasah, dan pejabat agama tingkat desa/gampong diangkat.Sejalan dengan itu, puluhan masjid dan ratusan meunasah didirikan. Dengan demikian, agama Islam dipeluk oleh semua rakyatnya dan telah menjadi agama rakyat,bukan hanya milik sultan dan kerabatnya.
     Sultan Kerajaan Aceh yang sangat terkenal adalah Sultan Iskandar Muda yang berkuasa pada 1607-1636 M. Pada masa Sultan Iskandar Muda inilah Kerajaan Aceh mencapai kejayaannya. Wilayah kerajaan makin luas yang mencapai semenanjung Malaka seperti Kedah,Perak, dan Pahang. Kehidupan rakyat makin makmur. Dakwah Islam makin giat pengamalan keagamaan rakyat makin meningkat.
     Kondisi Kerajaan Aceh semakin melemah pada abad ke-17. Sejak itu, secara berangsur-angsur Kerajaan Aceh tidak bisa bertahan dan akhirnya tinggal nama saja.

c.  Sesultanan Siak Sri Indrapura
     Di daerah Riau sekarang pada 1723 M berdiri kesultanan Islam Siak Sri Indrapura. Kesultanan ini dirikan oleh Abdul Jalil Rahmat Syah atau Raja Kecil, putra Sultan Mahmud II,penguasa Johor, Malaysia. Kesultanan ini menjadi pusat penyebaran Islam di Sumatra Timur.
     Abdul Jalil atau Raja Kecil digantikan oleh  anaknya, Abdul Jalil Muzaffar Syah ( 1746-1760). Pada masa pemerintahan Abdul Jalil Muzaffar ini, Kesultanan Siak melawan Belanda yang ingin memonopoli perdagangan. Kesultanan Siak berhasil memenangkan peperangan ini dan dapat memaksa Belanda mundur dari wilayahnya. Akan tetapi, pada peperangan yang kedua pada 1858, Kesultanan Siak terpaksa menandatangani Traktat Siak. Isi Traktat sangat merugikan Kesultanan Siak. Sebagian isinya adalah bahwa Belanda mengakui otonomi Kesultanan Siak tapi Siak harus menyerahkan 12 daerah taklukannya. Sejak ditandatangani Traktat Siak ini berangsur-angsur Kesultanan Siak mengalami kemunduran.
     Sultan terakhir  Siak adalah Syarif Qasim II, yang memerintah 1908-1946. Sultan Syarif Qasim II mempunyai pandangan yang meodern.Beliau mendirikan sekolah dasar ( HIS ) pada 1915 untuk anak-anak pribumi tanpa membedakan status sosialnya dan Madrasah Al-Hasyimiyah ( 1917 ) . Juga sekola untuk perempuan Latfah School (1926) dan Madrasah An-Nisa ( 1929). Sultan Syarif Qasim II pada 1946 menyerahkan sepenuhnya daerah sesultanannya kepda pemerintah Republik Indonesia. Atsa jasanya nama Sultan Syarif Qasim II diabadikan menjadi Nama IAIN Pekanbaru, Riau.

2.  Kerajaan Islam Di Pulau Jawa

a.  Kesultanan Demak
     Kesultanan Islam pertama yang berdiri di pulau Jawa adalah Kesultanan Demak. Kesultanan Demak didirikan di Desa Glagah Wangi. Daerah ini terletak di tepi pantai utara Jawa, sekarang termasuk wilayah Provinsi Jawa Tengah. Pada saat itu, daerah ini termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
     Demak muncul sebagai kerajaan Islam di pulau Jawa berhubungan dengan munculnya masyarakat Islam di daerah pesisir/pantai utara pulau Jwa. Hal ini terjadi karena makin banyaknya para pedagang Muslim yang berkunjung di daerah ini seperti Surabaya, Gresik, Tuban,Jepara dan Demak. Berawal dari hubungan dagang inilah lalu banyak orang Jawa tertarik memeluk agama yang dibawa pedagabg Muslim tersebut,rela meninggalkan agama lamanya yaitu Hindu atau Buddha. Di sini tokoh-tokoh yang sangat berjasa memperkenalkan Islam kepada orang Jawa adalah para Wali yang jumlahnya sembilan ( Wali sanga ).
      Salah satu murid Sunan Ampel adalah Raden Patah, anak Raja Majapahit ( Brawijaya ) dengan slah satu istrinya yang berasal dari Campa ( Sekarang di perbatasab Kamboja dan Vietnam ) yang beragama Islam. Sebagai anak raja, Raden patah diberi tanah jabatan dari Desa Glagah Wangi. Pda waktu yang bersamaan, Kerajaan Majapahit makin lemah akibat pemberontakan terus-menerus yang dilakukan antaranak keturunan Prabu Hayam Wuruk. Dengan keadaan seperti ini, Raden Patah dengan dukungan para tokoh Islam yang sering dikenal dengan Wali Sanga,mendirikan kerajaan Islam di tanah jabatannya tersebut.
       Kerajaan Demak makin hari makin kuat. Sebaliknya kerajaan Majapahit makin lemah dan akhirnya hancur. Wilayah Kerajaan Demak Selatan, sampai Yogya dan Ponorogo. Bahkan kekuasaannya sampai menyeberang ke Palembang dan Banjarmasin.
      Raden Patah  terus melakukan  pemerintahannya dan meningkatkan  dakwah Islam. Para penasehat agamanya, Wali Sanga, menyodorkan strategi  dakwah Islam  yang jitu. Meraka mengajukan rencana dakwah Islam memalui pendekatan budaya,bukan dengan pendekatan militer atau kekerasaan fisik. Raden Patah menyetujuinya. Dengan demikian, dakwah Islam di pulau Jawa dilakukan dengan kerja budaya, seperti memasukan ajaran Islam lewat dongeng-dongeng yang hidup di kalangan rakyat seperti cerita Aji Saka, Dewa Ruci, dan Amir Hamzah; mengisi ritual Hindu atau Buddha dengan ini ajaran tauhid tanpa mengubah bentuk luarnya seperti selamatan kematian 3 hari, 7 hari,40 hari,100 hari, dan 1000 hari; menciptakan upacara-upacara Islam dengan corak Jawa seperti Selikuran ( Peringatan Nuzulul Quran ), Riyaya ( Salat Idul Fitri), Grebeg Bakda ( perayaan Idul fitri),Grebeg Besar ( perayaan Idul Adha ), Grebeg Maulid ( Perayaan memperingati hari lahir Nabi muhammad saw);menciptakan karya seni Islam bercorak Jawa seperti gamelan, lagu/gending Jawa,Parikan,syair, dan lain-lain.
      Raden Patahdigantikan oleh Adipati Unus yang dikenal dengan nama Patiunus,anaknya. Adipati Unus atau Patiunus adalah anak lelaki tertua Raden Patah yang semula menkabat sebagai dengan julukan Pangeran Sabrang Lor karena sempat memimpin armada perang Demak ke Selat Malaka untuk menyeberangi laut Jawa untuk menyerang penguasa Kristin di Malaka. Peristiwa ini terjadi pada 1513 M, dua tahun setelah Portugis menduduki Malaka. Portugis menjuluki Pangeran yang gagah berani ini dengan sebutan Ayam Jantan dari Selatan. Meskipun misinya ini gagal tapi jihad Patiunus tersebut ,memberi semangat yang menyala-nyala kepada generasi berikutnya untuk terus melawan kekuasaan asing yang merampas hak-hak bangsa Indonesia.
      Patiunus memerintah tak lama, hanya dua tahun. Takhta kerajaan lalu diperebutkan oleh kedua adiknya : Pangeran Seda Lepen dan raden Trenggono. Anak Raden Trenggono, Sunan Prawoto,memebunuh pamannya,Pangeran Seda Lepen. Dengan terbunuhnya Pangeran Seda Lepen, maka Raden Trenggono naik takhta  menjadi Sultan Demak menggantikan Patiunus.
      Raden Trenggono melanjutkan kebijakan yang telah diambil kakaknya. Perluasan wilayah terus dilakukan sehingga hampir semua wilayah di pulau Jawa berada di bawah kekuasaanya. Dakwah Islam terus ditingkatkan sehingga Islam menjadi agama orang Jawa.
      Sultan Trenggono wafat ketika melakukan serangan ke Kerajaan Hindu, Blambangan. Baginda dibunuh oleh salah seorang pengawalnya yang berkhianat. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1546 M.
Wafatnya Sultan Trenggono secara mendadak tersebut, menimbulkan kekacauan di pusat kekuasaan. Anggota keluarga inti kerajaan melakukan perebutan kekuasaan. Arya Penangsang, anak Pangeran Seda Lepen, membunuh unan Pramoto. Sunan Prawoto adalah  anak Sultan Trenggono yang dulu membunuh ayah Arya Penangsang ( Pangeran Seda Lepen ). Perebutan kekuasaan ini akhirnya dimenangkan oleh menantu Sultan Trenggono yaitu Jaka Tingkir atau Adiwijaya. Dalam sautu pertempuran Adiwijaya berhasil membunuh Arya Penangsang. Dengan demikian,takhta kerajaan dipegang oelh Adiwijaya.
     Sultan Adiwijaya lalu memindahkan pusat kesultanan ke Pajang. Pajang adalah tempat kedudukan Adiwijaya sebagai bupati sebelum dinobatkan sebagai sultan. Pemindahan pusat kekuasaan ke Pajang didasarkan pada pertimbangan pada masih kuatnya penentangan para pengikut Arya Penangsang dan sebagian penasihat agama, Wali Sanga, yang tidak setuju dengan pengangkatan Adiwijaya sebagai Sultan Demak.

b. Kesultan Pajang
     Dengan pemindahan Pusat pemerintahan dari Demak ke Pajang maka berdirilah Kesultanan Pajang di dekat Surakarta sekarang. Sultan Adiwijaya sebagai sultan pertama.Baginda mulai membangun kerajaannya mulai dari nol.
     Dalam perkembangan Kesultanan Pajang mempunyai ciri yang berbeda dengan Kesultanan Demak. Kesultanan Demak bercirikan budaya pesisiran yaitu lebih demokratis, tidak menciptakan hubungan bertingkat-tingkat antara satu status dengan status lain, lebih rasonal, dan mengutamakan nilai Islam murni. Adapun Kesultanan Pajang lebih bercirikan budaya pertanian dan pendalaman.z Ciri-cirinya adlah penuh dengan pandangan mistik, tidak rasional, menciptakan hubungan bertingkat antara orang penting dengan orang tidak penting, Feodalistik, mencampurkan antara nilai-nilai kejawen, Hindu-Buddha, dan Islam.
      Pangeran Adiwijaya memerintah sampai dengan 1582 M. Beliau menyerahkan kekuasaan Kepada Aryo Pangiri, meantunya ( penguasa Demak ). Aryo Pangiri lalu mengangkat Pangeran Prawoto atau cucu Sultan Trengono. Aryo Pangiri lalu mengangkat Pangeran Benowo, anak Adiwijaya menjadi Bupati Jipang,sebuah wilayah di bawah Kesultanan Pajang.
      Pangeran Benowo sangat kecewa pada Aryo Pangiri kerana hanya diangkat sebagai bupati. Pangeran Benowo merasa berhak menjabat sebagai sultan menggantikan ayahnya. Ia lalu minta bantuan pada Sutawijaya, saudara angkatnya yang berkuasa di Mataram untuk melawan Aryo Pangiri. Duet Pangeran Benowo dan Sutawijaya akhirnya dapat mengalahkan Aryo Pangiri.
      Dalam  perkembangan berikutnya, Sutawijaya mendominasi pemerintahan Pajang.Ia memang lebih berani daripada Sultan Benowo yang lebih cenderung sebagai kiai/ulama. Menyadari kelemahannya, Sultan Benowo lalu mengundurkan diri dari kehidupan politik. Ia lalu menekuni profesi sebagai juru dakwah agama Islam. Ia meyerahkan takhta kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian mengangkat Gagak Bening. Pajang akhirnya sepenuhnya di bawah kendali Mataram.

c.  Kesultanan Mataram
     Kesultanan Mataram didirikan oleh Senopati atau Sutawijaya pada 1582 M. Pusat kekuasaanya terletak di daerah selatan Yogyakarta sekarang. Semula ia hanyalah bawahan Pajang. Ia diangkat oleh sultan Adiwijaya untuk membina masyarakat di daerah Mataram. Setelah Adiwijaya Wafat, ia menguasai Pajang dengan cara pertama membantu Pangeran Benowo mengalahkan Aryo Pangiri dan kedua menggantikan Pangeran Benowo dengan Gagak Bening. Melalui cara ini, ia lalu menjadikan Pajang sebagai wilayah di bawah kekuasaanya dan mengangkat diri sebagai Sultan Mataram.
     Sutawijaya membangun Kerajaan Mataram dari nol. Masa pemerintahannya disibukan oleh upaya menstabilkan pemerintahannya. Ia menghadapi perlawanan dari para buapti pesisir seperti Demak,Tuban,Pasuruan, dan Surabaya. Akan tetapi, ia dapat menyelesaikan dengan baik kecuali Surabaya.
     Sutawijaya wafat pada 1601 M. Ia digantikan oleh Mas Jolang atau Penembahan Krapyak, anaknya. Mas Jolang mewarisi pemerintahan yang belum stabil. Meskipun Madiun dan Kediri yang ikut memberontak sudah bisa ditundukkan tapi Surabaya belum mau tunduk. Ia sempat minta bantuan pada VOC, kongsi dagang Belanda di  Batavia, untuk membantu  menundukkan Surabaya tapi tidak mendapat tanggapan.
     Raden Mas Jolang/ Panembahan Krapyak Wafat Pada 1613 M. Ia digantikan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sultan Agung berhasil membangun Mataram menjadi kerajaan  besar yang stabil dan kuat. Ia dapat memundukkan Surabaya. Dengan demikian,seluruh wilayah Jawa bagian timur berada di bawah kekuasaannya.
      Badinda mempunyai ambisi yang kuat untuk menguasai seluruh Jawa. Oleh karena itu, Sultan Agung ingin menundukan Baten,Kesultanan yang masih merdeka, dan Batavia yang sudah dikuasai oleh Belanda melalui bendera VOC.
      Sultan Agung sangat benci pada VOC, kerana VOC melakukan praktis monopoli perdagangan yang sangat merugukan Mataram dan rakyat pada umumnya. Oleh karena itu,beliau bertekad mengusir VOC dari tanah Jawa. Untuk merealisasikan tekadnya tersebut, beliau melakukan persiapan penyerangan yang matang. Beliau melatih prajurit-prajurit yang handal dan sakti mandraguna, memilih panglima perang yang handal, dan melengkapi prajurit dengan persenjataan yang cukup. Disamping itu, beliau juga mempersiapkan bahan pangan yang cukup sebagai persiapan untuk peperangan jangka panjang/ memakan waktu lama. Sebelum penyerangan dilakukan, beliau mengirim ribuan petani untuk membuka lahan pertanian di sepanjang garis pantai mulai dari Kendal sampai Bekasi. Beliau memberi perintah kepada para petani tersebut untuk membuat lumbung-lumbung padi di daerah masing-masing sebagai cadangan bahan pangan bagi prajurit Mataram yang akan menyerang VOC.
       Pada 1628 Pasukan Sultan Agung melancarkan serangan ke Batavia melalui  darat. VOC sangat kewalahan  atas serangan yang dilancarkan dari berbagai arah ini. J.P Coen, Gubernur Jenderal VOC tewas dalam peristiwa ini. Belanda segera minta bantuan tentara di Maluku. Dengan pasukan yang lebih besar,Belanda dapat melancarkan srangan balik.Pasukan Mataram mundur ke daerah Bekasi. Akan tetapi, betapa terkejutnya mereka ketika mendapatkan cadangan berasnya telah terbakar abis. Tampaknya para pengkhianat telah membocorkan rencana ini kepada Belanda. Akibatnya tentara Mataram tidak bertahan lama. Serangan pertama ini gagal.
      Sultan Agung tidak putus asa. Pada 1629 Sultan melancarkan serangan lagi kepada Belanda di Batavia. Belajaran dari kegagalan serangan pertama,kali ini beliau membuat strategi baru.Tentara Mataram melancarkan serangan melalui laut. Tampaknya Allah swt belum berkehendak memberi kemenangan pada pasukan Sultan Agung ini. Serangan kedua pun gagal.
      Setelah Sultan Agung Wafat pada 1646 Kesultanan Mataram berangsur-angsur mengalami kemunduran. hal ini terjadi karena adanya perebutan kekuasaan di kalangan istana dan campur tangan Belanda dalam pengangkatan Sultan.
      Sultan Agung berjasa dalam memadukan budaya Jawa dengan Islam.Kalender Jawa yang berdasarkan peredaran matahari diganti dengan dasar peredaran bulan ( hijriah). Nama-nama bulan dan hari Jawa disesuaikan dengan nama bulan dari hari dalam penanggalan hijriah. Beliau menyelin kitab-kitab syariat ke dalam Bahasa Jawa. Beliau juga membuat kesenian jawa yang bernapaskan Islam.

d.  Kesultanan Cirebon dan Banten
      Kesultanan didirikan oleh Fatahillah. Fatahillah adalah panglima perang Kesultanan Demak. Ia juga memantau sultan Trenggono. Saat perang Kesultanan berkuasa di Demak,ia memerintahkan Fatahillah menyebarkan Islam ke arah barat pulau Jawa di samping untuk membendung pengaruh portugid yang sudah menjalin kerja sama dengan Kerajaan Hindu pajajaran. Hal ini harus dilakukan karena pada 1522 Portugis telah datang di Pajajaran di bawah Pimpinan Henrique Leme mengajak kerja sama perdagangan dan membendung pengeruh Islam Demak.
       Pada 1526 Demak mengirim pasukan ke Ciebon di bawah pimpinan Fatahillah. Misi ini membawa hasil gembilang. Cirebon dapat ditaklukkan dalam waktu singkat karena mendapatkan bantuan dari masyarakat yang sudah memeluk Islam. Fathillah lalu melanjutkan ekspedisi ke Baten. Di Banten pun Fatahillah mendaptkan kemenangan yang gilang gemilang.Dari  Banten, ia kemudian melancarkan serangan kepada Portugis yang menguasai pelabuhan Sunda Kelapa ( sekarang bernama Jakarta ). pada 22 Juni 1527 pasukan Fatahillah dapat mengalahkan pasukan Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa. Nama Sunda Kelapa lalu diubah menjadi Jayakarta, yang artinya kota kemenangan.
      Fatahillah kemudian menjadi  Sullat Cirebon. Akan tetapi,setelah berusia 60 tahun beliau lebih banyak mencurahkan perhatian pada kegiatan dakwah Islam. Beliau wafat dalam usai 80 tahun dan dimakanan di Gunung Jati Cirebon.
Sesultanan diserahkan pada anak turunnya. Akan tetapi,keadaannya makin mundur. Pada zaman  Mataram, Kesultanan Cirebon dikuasi Mataram. Kemudian Oleh Susuhunan Mataram diserahkan kepada VOC Belanda.
      Adapun kesultanan Banten mengalami banyak kemajuan. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Banten mencapai puncak kejayaannya.Sultan Ageng sangat berkeinginan mengusir Belanda dari Batavia yang sejak 1602 berhasil merebut Jayakarta dan Mengubahnya menjadi Batavia. Sultan Sangat tidak senang pada Belanda karena memaksakan monopoli perdagangan.
     Di pihak lain, Belanda juga ingin menaklukkan Sultan Ageng karena menolak monopoli perdagangan. Demi mencapai maksud ini, Belanda melakukan politik devide at impera, adu domba lalu kuasai. Belanda lalu merayu Sultan Haji, anak Sultan Ageng Tirtayasa untuk melawan ayahnya dengan imbalan akan dinaikan takhta. Sultan Haji terbujuk rayuan Belanda tersebut. Ia lalu memberontak kepada ayahnya sendiri dengan bantuan Belanda. Sultan Ageng menyerah dan ditangkap oleh Belanda.Beliau lalu dibawah ke Batavia dan meninggal di sana pada 1680 M.

2.  Kerajaan Islam Di Pulau Sulawesi
      Di Sulawesi juga berdiri beberapa kesultanan Islam pada abad ke-16.Kesultanan Islam yang terkenal adalah Goa dan Tallo. Orang menyebutnya sebagai Kesultanan Makassar. Kedua Kesultanan ini sangat besar jasanya dalam penyebaran Islam di daerah Sulawesi Selatan Khususnya dan Sulawesi umumnya. Di samping kedua kesultanan tersebut juga ada Kesultanan Bone, Wajo,Soppeng,dan Lawu.
     Kesultanan Goa dan Tallo adalah Kesultanan merdeka yang makmur. keduanya menjalankan politik bebas artinya bebas berhubungan dengan pihak manapun atas dasar kerjasama yang saling menguntungkan. Oleh karena itu, mereka menolak bekerja sama dengan Belanda yang hendak memaksakan sistem monopoli perdagangan. Sultan Alaudin dari Goa menolak dengan keras maksud Belanda tersebut.
      Pada 1639 M Sultan Alaudin wafat. Kesultanan diteruskan oleh anaknya,Muhammad Said. Sultan Muhammad Said meneruskan kebijakan ayahnya yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Berkali-kali Belanda datang menyodorkan kerja sama perdagangan tapi selalu ditolak.
Pada 1653 M Sultan Hasanudin Said wafat. Beliau digantikan oleh putranya. Dalam menghadapi Belanda sikap Sultan Hasanudin sama dengan sikap ayah dan kakeknya, yaitu sama-sama anti-Belanda .Bahkan sikap Sultan Hasanudin lebih tegas lagi. Sultan Hasanudin menyerang benteng Belanda.
      Menghadapi serangan Sultan Hasanudin, Belanda sangat kewalahan. Armada launya kocar kacir. Pasukannya banyak yang terbunuh dalam peperangan laut.Melihat keberanian dan kegigian Sultan Hasnudin demikian, Belanda memberi julukan kepadanya sebagai de Haav van de Ostem, artinya Ayam Jantan Dari Timur.
      Untuk menghadapi perlawanan Hasnudin yang gigih tersebut Belanda menggunakan politik adu domba, devide et impera. Belanda membujuk Raja Bone, Aru Palaka agar menyerang Makassar. Aru Palaka termakan bujuk rayu Belanda tersebut. Ia akhirnya menyerang Makassar dengan bantuan Belanda.
      Aru Palaka mau menyerang Makassar karena dendam dan ambisi pribadi. Aru Palaka dan Hasanudin adalah raja yang saling bersaing pengeruh dan berambisi memperluas kekuasaan. Dalam persaingan tersebut Hasanudiin lah yang menang. Aru Palaka dijadikan bawahan Hasanudin. Tampaknya Aru Palaka tidak menerima perlakukan Hasanudin terhadap dirinya dan rakyat Bone yang pernah dijadikan pekerja untuk membangun benteng di Makassar.
       Kali ini Hasanudin kewalahan menghadapi pasukan gabungan,Bone dan Belanda,tersebut.Pasukan Hasanudin makin terdesak dan akhirnya menyerah. Belanda kemudian memaksa Hasanudin untuk menandatangani perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Bongaya. Isinya anatar lain,Makassar tidak boleh berhubungan dengan bangsa asing kecuali Belanda untuk urusan perdagangan dan mengakui kekuasaan VOS di Makassar.

4.  Kerajaan Islam Di Kepulauan Maluku
     Kepulauan Maluku terdiri atas pulau-pulau yang terletak antara pulau Sulawesi di barat dan pulau Papua di timur. Di kepulauan Maluku berdiri kesultanan-kesultanan Islam yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia Timur. Kesultanan yang terkenal adalah Ternate dan Tidore. Di samping itu, masih ada beberapa kesultanan kecul yaitu Obi,Bacan,Halmahera,dan Makyan.
     Kesultanan Ternate dan Tidore adalah dua kesultanan yang makmur. Keduanya aktif dalam mengembangkan dakwah Islam.Islam dapat tersebar dan dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Maluku sampai ke Papua bagian barat berkat jasa dua kesultanan ini.
     Ketenangan dan ketenteraman Ternate dan Tidore terusik ketika bangsa Barat datang ke wilayah ini. bangsa Eropa yang pertama kali datang ke wilayah Maluku dadalh Portugis dan Spanyol. Bangsa Portugis dan Spanyol adalah bangsa yang pernah dijajah oleh orang Silam Arab pada abad ke-8 samapi dengan abad ke-15. Ketika Portugis dan Spanyol menjumpai Islam di maluku maka sikap dendam dan permusuhannya muncul.
      Perlu kamu ketahui bahwa dorongan Portugis pergi ke dunia Timur tidak persis sama dengan Belanda dan Inggris.Jika belanda dan Inggris lebih dimotivasi mencari rempah-rempah demi mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar,Portugis dan Spanyol membawa semboyan Gold, Golry, dan Gospel atau Emas,Kejayaan, dan Agama.Artinya Portugis dan Spanyol dalam mencari dunia baru ke Timur membawa misi : mencari emas atau uang sebanyak-banyaknya,mendapatkan kemasyhuran sebagai bangsa hebat tak terkalahkan, dan menyebarkan ajaran Agama Kristen.
     Di Maluku,Portugis mendekati Ternate sedangkan Spanyol mendekati Tidore.Di sini Portugis dan Spanyol terlibat bersekongkol untuk membuat kedua kesultanan ini berperang. Portugis seolah membantu ternate dan Spanyol juga seolah-olah membantu Tidore.Peperangan anatar kedua Kesultanan tersebut membuat keduanya lemah.Akhirnya kedua kesultanan tersebut masing-masing tergantung pada Portugis dan Spanyol : Ternate pada Portugis dan Tidore dan Spanyol.
     Dalam perkembangan berikutnya Portugis makin mendikte Ternate Sultan Hairun, penguasa Ternate tidak dapat menerima sikap Portugis yang ikut campur terhadap kebijakan Ternate.Sultan Hairun akhirnya melawan Portugis. Dalam kondisi terdesak Portugis minta diadakan perundingan di benteng Sao Paulo.Akhirnya keduanya sepakat untuk berundingan.Delegasi Portugis dipimpin langsung oleh Sultan Hairun sedangkan delegari Portugis dipimpin oleh Gubernur Portugis di Maluku, De Mosqitar. Akan tetapi,ketika perundingan tengah berlangsung tiba-tiba masuk pasukan Portugis dan menangkap Sultan Hairun lalu membunuhnya. Perbuatan Portugis seperti ini merupakan perbuatan diadab yang tidak sesuai dengan erika politik dan pergaulan mana pun di dunia.
      Perbuatan biadab Portugis resbut membuat marah seluruh rakyat Maluku.Putra Sultan Hairun,Sultan Baabullah melawan Portugis mati-matian.Rakyat Ternate membantu Sultan dengan semangat yang menyala-nayala. bahkan Sultan Nuku dari Tidore yang pernah angkat senjata melawan Ternate akibat provokasi Spanyol kali ini membantu Ternate melawan Portogis.Dengan adanya perlawanan serempak dari seluruh rakyat Maluku akhirnya Portogis hengkang dari Maluku.
     

0 Response to "Peran Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara dalam menyebarkan Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel