MACAM-MACAM PERILAKU SEKS BEBAS ( FREE SEX )

A. Pranikah
     Perilaku hubungan seks pranikah yang dilakukan remaja ternyata sudah dari dulu ada. Namun belakangan ini sikap prmisif tersebut lebih ditunjukan secara terbuka. Makin banyak perilaku seks pranikah di kalangan remaja disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah sisebabkan pertumbahan psilogi dan psikis remaja yang mengalami perubahan dari masa anak-anak menuju dewasa. Sedangkan faktor eksternal adalah adanya dorongan dari lingkungan untuk melakukan seksual di tengah masyarakat melalui media massa, flim, atau internet.
   Pada masa remaja mulai berfungsi hormon-hormon seksual. Hal itu menyebabkan timbulnya bermacam-macam dorongan seksual. Dorongan seksual tersebut cenderung untuk dipenuhi pada waktu itu. Apakah dorongn seksual itu akan dipenuhi atau tidak tergantung pada individu yang bersangutan. Dipenuhinya dorongan seksual ini sangat dipengaruhi oleh faktor keagaman dan adat istiadat yang dipercaya dan diyakini remaja bersangkutan. makin kuat keyakinan dan pengalaman nilai-nilai agama dan adat istiadat, amak makin kuat dorongan untuk tidak terlibat dalam hubungan seks pranikah.
   Pandangan remaja terhadap seks kian berubah. Remaja dengan sikap keserbabolehan, sebagian menganggap hubungan seks pranikah tidak perlu dipersoalkan. Tidak jarang di kalangan remaja, mahasiswa, melakukan hubungan pranikah di hotel. Seperti dua mahasiswa di padang dipergok Satuan Koordinasi Keamanan Kota ( SK4 ) Padang, tengah berhubungan intim di hotel. Aparat anak kos, orangtua jauh sehingga susah untuk dihubungi.
   Tayangan infotainment di media televisi yang hanya lima belas persen saja bermuatan pendidikan, sedangkan sisanya 85 persen dipenuhi muatan seks. Hasil survey yang diberikan April 2007 menyebutkan, tayangan infotainment yang menjadi menu wajib berbagai stasiun TV di atanah Air, tak lepas dari jeratan industri seks. Sebuah mosaik bisnis seks kelas tinggi ( bigh class of business of sex ) yang menawarkan beragam sensasi dan fantasi nafsu syahwat, terbingkai kamuflasean apik dalam sajian informasi dan hiburan ( information and entertainment ).
   Tayangan tersebut mendorong banyak anak baru gede ( ABG ) yang menjadi korban pelampiasan seks kaum Adam. Malah mereka sendiri ( remaja itu ) meski belum resmu menikah, dengan kesadaran penuh melakukan hubungan seksual atas dasar suka sam suka. Terjadilah hubungan seks Pranikah.
   Hasil penelitian terhadap sejumlah remaja SMA DKI Jakarta dan Banjarmasin ketika ditanya tentan model berpacarannya, hampir 90 % mengakui sudah bersenggama tangan dan 61 % sudah berciuman. Dari 400 responden di masing-masing kota itu, sekitar 6-7 % sudah meraba alat kelamin pasangannya. Yang sampai bersenggama sekitar 1-2 %. Demikian psikolog Dr. Sarlito Wirawan mengungkapkan pada seminar sehari pendidikan berkeluarga Bagi Remaja di IKIP Jakarta.
   Begitu pula hasil penelitian Dr. Baren yang dilakukan terhadap remaja di Medan sebagaiman dimuat tabloaid Wanita Indonesia, memperlihatkan gambaran betapa remaja begitu gampangnya melakukan seks ( kalau boleh disebut begitu ) tanpa melalui jenjang pernikahan sah. Penelitian ini menyebutkan, mereka yang melewati masa pacaran dua sampai enam bulan sudah dipastikan melakukan hubungan seks. Apalagi yang sudah berpacaran lebi dari setahun.
   Hubungan seks pranikah umumnya berawal dari masa pacaran. Padamasa pacaran ini hubungan intim mulai dilakukan kalangan remaja. Baik pelajar, mahasiswa, pemuda-pemudi tidak  sekolah, mereka tinggal di kota atau di desa. Waktu pacaran tergiur melakukan cumbu rayu, peluk cium dan bila gejolak nafsu tidak terkenalikan berlanjutnya ke hubungan seks dengan coba-coba. Mulai dari rab-rab, cium,pelukan hingga berhubungan badan. Tempatnya bisa di bioskop yang gelap di tengah permutaran flim, ditempat rekreasi, tempat mkos, di rumah ketika orang lain tidak ada, bahkan sengaja menginap di hotel.
   Remaja outri makin sulit mengelak, bila bentuk rayuan gombal sang pacar minta bukti ketulusan cintanya dengan berhubungan seks. Inilah yang seringkali disalahartikan kalangan remaja sekarang. Bukti cinta diukur dengan sebatas hubungan seks. Kasarnya, penyerahan kehormatan wanita ( pasangan ) untuk dinikmati seketika adalah bukti ketulusan cinta sang pacar ( putri ). Akibat lebih jauh dari tindakan tersebut tidak lagi dipikirkan.
   Sikap orangtua pun mendua. Di satu sisi membiarkan anak-anak larut dalam dunia pacaran yang terkadang memberi peluang terjadinya hubungan seks pranikah. Di sisi lain, orangtau jelas menentang kera hubungan seks pranikah. Sebagaian orang tua mulai bersikap, bila si gadis hamil sebelum nikah sebagai konsekuensi hubungan seks pranikah. Sebagian orang tua mulai bersikap, bila si gadis hamil sebelum nikah sebagai konsekuensi hubungan seks pranikah sang anak, orangtua cuek saja. Tetapi begitu mendengar kabar anak gadisnya "kecelakan " orangtua kalang kabut dan kebingungan. Orangtua memaki dan menumpahkan seluruh unek-uneknya kepada sang anak. Apa yang harus dilakukan. Padahal ketika itu yang perlu dilakukan adalah bagaiman menyelamatkan anak dan kandungannya. sehingga dapat berjalan normal.

B. Kumpulan Kebo
     Kumpulan kebu adalah hubungan seks yag dilakukan berulang-ulang oleh seorang laki-laki dan perempuan sebagaiman layaknya pasangan suami istri, namun tidak diikat oleh akad nikah dalam sebuah pernikahn. Pasangan kumpul kebo hidup serumah. Perbuatan ini dikatakan kumpulan kebo, karena pasangan laki-laki dan perempuan melakukan hubungan seks seperti kerbau ( binatang ), melakukan hubungan seks tanpa ada ikatan melalui pernikahan yang sah. Perbuatan kumpul kebo dilakukan  atas  dasar sama suka. Bagi sebagian masyarakat di Barat, tidur ( melakukan hubungan badan ) sepasang laki-laki dan perempuan di luar pernikahan tidak dipersoalkan. Meraka boleh saja tidur bersama asal suka sama suka. Pasangan kumpul kebo tidak hanya sekedar menyelaurkan kebutuhan seks semata, tetapi ada yang sampai melahirkan anak. Bisa dibayangkan, anak yang di luar pernikahan sah, bagaiman jadinya kelak keturunan dari pasangan tersebut. Bagaimana status hukumnya ?
   Di kelompok masyarakat bawah, praktik kumpulan kebo dilakukan karena teterpaksaan. Sebuah yayasan yang dikoordinir oleh Badan Koordinasi Organisasi Wanita ( BKOW ) DKI Jakarta pernah menyelenggarakan pernikahan massal untuk menganggulangi kumpul kebo. Merak yang dinikahkan banyak yang sudah punyak anak, 1-5 orang. Merak sudah belasan tahun berkumpul, hidup serumah tanpa ikatan pernikahan sah, alias kumpul kebo. Usainya anatar 24-70 tahun. Pasangan yang dinikahkan sebanyak 115 pasangan itu, umunya berdiam di gubuk-gubuk liar, di tepi rel kereta api, di kosong jembatan, dan tempat lain yang tidak memenuhi syarat sebagai rumah sehat.
   Kumpul kebo mereka lakukan agaknya memang disebabkan keterpaksaan. Meraka sehari-hari bergelut mencari nafkah. Menjadi pemulung atau kuli untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Keterpaksaan ini tentunya tidak perlu harus diteruskan, meraka harus dinikahkan. Sesuai dengan agama masing-masing dan dengan Undang-Undang Perkawinan No.1/1974.
   Mereka selain miskin ekonomi, juga miskin pengetahan sehingga tidak mau ambil peduli dengan tata kehidupan yang baik. Termasuk melanssungkan pernikahan yang sah untuk menyalurkan kebutuhan bilogis guna mendapatkan keturunan yang sah. Beda dengan kumpul kebo yang dilakukan kalangan menengah ke atas yang lebih didasari kepentingan kepuasan berhubungan seks. Ingin menikmati kepuasan seks tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Kelompok ini bukannya tidak punya uang untuk melangsungkan pernikahn dan perkawinan . Masalahnya lebih disebabkan keninginan memuaskan nafsu seks dan tidak mau dibebani dengan ikatan pernikahan.
   Di negara maju ( Barat ) kumpul kebo tidak asing lagi. Malah ada yang sudah punyak anak baru melangsungkan pesta pernikahannya. Praktik kumpul kebo ini juga terlihat pada jumlah selebritis barat. Sedangkan di Indonesia, sudah banyak juga praktik kumpul kebo. Kota pelajar Yogyakarta, pernah digemparkan oleh peristiwa kumpul kebo di kalangan mahasiswa. Di Australia, data menunjukkan ( Kanguru 11 Number 7,p.1-17 ), saat ini ada 33 % wanita berusia 20-30 tahun hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.
   Kisah-kisah kumpul kebo memang jarang membuahkan madu,sebagaimana yang diinginkan. Purniati, krininolog dari Universitas Indonesia menurukan, " Dilihat dari latar belakangnya, kumpul kebo itu membuat wanita rentan terhadap pembunuhan,perkosaan, dan kejahatan lain,' katanya kepada Editor. Sebab, wanita yang kumpul kebo biasanya tidak mau diekspose. Manakah pasangannya ingin melepaskan interaksi antara mereka, berbagai cara bisa dilakukan. Kriminolong lain, Mulyana W. Kusumh pun berpendapat relasi kumpul kebo, wanita memang berada dalam posisi rawan. Akan lebih baik jika tidak kumpul kebo.
   Dengan meningkatnya arus urbanisasi dan migrasi pekerja, sistem kekeabatan dan pola seksualitas juga berubah, kaum muda dapat melakukan hidup bersama dan membangun rumah tangga di luar pernikahan,alias kumpul kebo. Fenomena seperti ini pernah dialami kaum muda kelas pekerjaan di Inggris yang menjadi lebih otonomi secara seksual dan ekonomi dibandingkan dengan sejawat mereka dari kelas menengah anatara tahun 1500-1800.
   Pasangan hidup bersama di pulau Batam dapat dikatakan merupakan dampak lajunya industrialisasi dan kapitalisme yang tidak sebanding dengan kekuatan sosial yang melekat dalam diri masyarakat. Alasan melakukan hidup bersama ( tentunya di luar pernikahan ) yang terungkap adalah,a )berbeda agama dan latar belakang, b ) tidak siap untuk berkeluarga, dan c) tidak mau diikuti surat nikah resmi. Umumnya pasangan hidup bersama tidak melanjutkan hubungan ke jenjangan pernikahan dan berakhir dengan perpisahan. Putus dan berpisah, kemudian mencari pasangan baru, lazim ditemui pada pasangan hidup bersama. Sejuh ini, Banyak pasangan hidup bersama yang menikmati kebersamaan meraka dalam jangka waktu relatif lama. sehingga masyarakat menganggap mereka adalah pasangan resmi.

C. Pelacur
     Cukup banyak literatur yang membahas masalah pelacuran di Indoensia. Termasuk media massa pun memberitakan berbagai persoalan sekitar pelacuran di Indonesia. Tidak heran, banyak kalangan juga mendefinisikan pelacur itu sendiri.
   Solon, seorang raja Yunani ( 630-560 SM ), orang pertama-tama mencoba memberikan batasan terhadap pelacur. Ia juga merupakan organisaor pertama dari pelacuran.Cara solon sampai sekarang masih dipakai di berbagai negara tertentu. Ia memperolehkan adanya pelacuran, tetapi mencatat dan menggontrol mereka dengan mendirikan tempat-tempat pelacuran negara ( Staats Bordelle 0, semacam lokalisasi. Batasan yang diberikan adalah memperoleh balas jasa untuk kepuasan seksual orang tersebut.
   Dr.A.S. Alam mengutip Laws of Malaysia, Act 106 menyebutkan, pelacuran adalah suatu perbuatan di mana seorang perempuan menyerahkan dirinya untuk kepentingan kelamin dengan jenis kelamin lain dengan mengharapkan bayaran,baik berupa uang ataupun bentuk lainnya.
   Dari pengertian itu, Dr. A.S. Alam mengambil kesimpulan beberapa unsur untuk terjadinya pecuran, yakni 1) Adanya perbuatan, yang  berupa perhubungan kelamin campur aduk antara laki-laki dan perempuan, 2)  Dari pihak perempuan, biasanya disebut PSK ( Pekerja Seks Komersial ), meyediakan diri kepada hampir setiap laki-laki yang menginginkan hubungan kelamin dengannya, dan 3 ) Adanya bayaran berupa uang yang diberikan oleh pihak laik-laki.
   Iwan Bloch menyebutkan, pelacuran adalah suatu bentuk tertentu yaitu kepada siapa pun secara terbuka dan hampir selalu dengan pembayaran, baik untuk bersebadan,maupun kegiatan seks lainnya yang memberikan kepuasa yang diinginkan oleh yang bersangkutan. Sedangkan W.A. Bonget menyebutkan,prostitusi adalah gejala sosial di di mana wanita menyediakan dirinya untuk perbuatan seksual sebagai mata pencahariannya. Dan Paul Moedikdo Moeliono mengatakan, pelacuran adalah penyerahan badan wanita dengan meneriam bayaran, kepada orang banyak guna pemuasan nafsu seksual orang-orang itu. Sementara George Ryley Scott mengartikan pelacur adalah seorang laki-laki dan perempuan yang karena semacam upah, baik berubah uang atau lainnya, atau karena semacam bentuk kesenangan pribadi dan sebagai bagian dari seluruh pekerjaannya, mengadakan hubungan kelamin yang normal atau tidak normal dengan berbagai orang, yang sejenis dengan atau yang berlawanan jenis dengan pelacur itu.
   Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan, pelacuran merupakan perbuatan perzinaan, hubungan seks bebas di laut pernikahan yang sah antara pria dan perempuan dengan motif pemuasan nafsu seks yang salah satu pihak memberikan imbalan jasa pada pihak lainnya. Istilah lain bagi pelacur adalah pekerja seks, karena mereka sudah menjadikan seks sebagai profesi /pekerjaan untuk mendapatkan uang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan WTS adalah orang yang melakukan perzinaan itu, yakni perempuan. Dalam praktik sebenarnya di tengah masyarakat, WTS juga ada PTS. Maksudnya pria Tuna Susila. Di mana yang memberikan imbalan / bayaran adalah perempuan kepada laki-laki. Praktik ini biasanya dilakukan perempuan-perempuan the bave yang tidak mendapatkan kebahagiaan berhubungan seks dengan suaminya. Boleh jadi suami jauh lebih tua dari perempuan tersebut, atau suami terlalu sebun kerja hingga kewajiabn batin terhadap istri tidak terpenuhi.
   Istilah lain dari Pelacur antara lain perek ( perempuan eksperimen ), wanita jalang, di Batam ada juga istilah lontong dan di Sumatera Barat diistilahkan lonte , untuk menyebut pelacur. Laki-laki yang pergi ke tempat pelacuran, disebut si hidung belang, beranggapan berhubungan seks dengan pelacur lebih mudah, murah, dan tidak punya beban. Biaya yang dikeluarkan lebih sedikit dibanding punya partner seks tetap, apalagi dengan ikatan  pernikahan sah. Bagi hidung belang yang sudah berkeluarga, punya istri, berhubungan seks dengan pelacur selain tidak ingin nikah lagi, juga lebih " aman ". Alasan lain,ingin variasi dalam berhubungan seks. sedangkan bagi laki-laki pengidap penyakit penyimpangan perilaku seks, seperti seksmania atau hiperseks, tempat pelacur adalah tempat yang tetap memuaskan nafsu seksnya.
   Pertanyaannya, mengapa perempuan sampai mau jadi pelacur ? Secara umum faktor penyebab wanita menjadi pelacur ada 6 menurut dr. H. Ali Akbar. Pertama, tekanan ekonomi. Karena tidak ada pekerjaan, terpaksa mereka hidup menjual diri sendiri dengan jalan dan cara yang paling mudah. Kedua, tidak puas dengan posisi yang ada. Walaupun sudah mempunyai pekerjaan, beum puas juga karena tidak bisa membeli barang-barang hias yang bagus dan mahal. Ketiga, kebodohan, tidak punya pendidikan atau interligensia yang baik. Keempat, cacat kejiwaan. Kelima, sakit hati, ditinggalkan begitu saja, dan keenam, tidak puas dengan kehidupan seksualnya atau hiperseksual.
   Di pulau Batam, perilaku mereka sangat diperngarhui oleh materialisme yang disampaikan media massa dan iklan, yang menekankan pada individualisme. Perek ( pelacur ) melakukan hubungan seksual dengan siapa saja yang disukai, baik dengan menerima imbalan maupun tanpa menerima imbalan. Pelacuran saling  terkait dengan kemajuan dan perkemabngan sebuah kawasan. Pelacuran juga menjadi sisi " industri ". yakni industri seks. Sebagai sektor industri, praktek pelacuran mendatangkan perputaran uang jutaan rupiah. Jika ditelusuri lebih jauh, eksploitas seksual melalui lalu lintas ( perdagangan ) seks, pariwisata seks dan pelacuran melibatakan jaringan bisnis yang bernilai miliaran dolar.
   Di Singapura, tersebutlah Gelang, yang pasti orang langsung paham tempat apa gerangan. Di lokalisasi multiras tersebut, pelacur Indonesia tarifnya muarah meriah. Negeri jiran yang komopolitan ini, sebuah kawasan pelacuran multiras. Pelacur segala bagsa tersedia di sana, termasuk penjaja seks dari bangsa Indonesia. Tarif penjaja seks ini sebesar 45 Dolar Singapura ( DS ) sekali kencan dengan maksimal waktu 20 menit. Di Gelang, palcuran Indonesia eksis di Lorong 12. Di lorong ini spesial untuk para pelacur dari Indonesia . Seperti dituturkan Dewi salah seorang pelacur di sana, tarif pelacur asal Indonesia paling murah, yakni hanya 35 DS sekali kencan paling lama 20 menit. Meski dibayar 35 DS, namun ia hanya menerima 20 DS. Sisanya, ^ DS sewa bilik dan 9 DS untuk induk semang.
   Pengiriman tenaga kerj a Indonesia ( TKI ) sebagai pembantu rumah tangga ( PRT ) ke Malaysia disinyalir menjadi salah satu pendorong perempuan jadi pelacur. sehingga pengiriman TKW tersebut perlu diboikot. Hal ini disebabkan payung hukum yang lemah terhadap TKI. Sehingga calon TKI pun menyebut, daripada jadi pelacur biarlah hidup marasai ( menderita ) di kampung.
   Menurut catatan pemerintah Malaysia, jumlah pekerja seks komersial ( PSK ) alias pelacur asal Indoesia yang bermukim di negeri jiran itu sejak 1996-2002 mencapai 10.584 orang. Kedutaan Besar RI ( KBRI ) juga terus menampung para korban pelacuran, perjualan manusia ( trafficking ), pelecahan, serta penyiksaan. Banyak gadis Indonesia jadi pelacur di Malaysia karena kesulitan kehidupan juga disebabkan permintaan " pasar " yang terus meningkat. Permintaan atas gadis Indonesia, menurut catatan Malaysia, berada pada posisi ketiga setelah Cina dan Tahiland.
   Di kota-kota INdoensia sendiri pelacuran sudah menjadi bagian masyarakat  yang tidak terpisahkan, baik di lokalisasi maupun tidak. Perputaran uang di lokasi pelacuran mencapai omzet Rp 1 miliar semalam. Seprti diberitakan Koran Tempo edisi 12 Januari 2002, Buapti Bekasi Wikanda Darmawijaya bertekad membebaskan lahan kompleks pelacuran Malvinas Kampung Utan, Cibitung, Kabupaten Bekasi, paling lambat tahun 2003. DPRD Bekasi setuju menganggarkan Rp 22 miliar, sebanyak Rp 10 miliar melalui APBD tahun 20002, Sisanya, 12 miliar tahun 2003. Konon, lokasi pelacuran itu perputaran uang mencapai omzet Rp 1 miliar semalam. Saking menggiurkannya angka tersebut, para oknum aparat dan organisasi kepemudaan tertentu berupaya mempertahankan keberadaannya. Ini salah satu sebab berbagai protes dan janji pemerintah untuk membasmi pelacuran di Malvinas tak kunjung membawa hasil.
   Menurut sejahnya kompleks pelacuran ini tumbuh secara alamiah pada pertengahan 1970-an, berlokasi di Kampung Utan seluas 5 Hektar. Julukan Malvinas mencuat ketika terjadi perang antara Inggris melawan Argentina yang memperebutkan kepulauan Malvinas era 19990-an. Para hidung belang saat itu mengurai kata Malvinas menjadi " malu-malu tav (p)i ganas". Saat itu Malvinas dihuni sekitar 800 pelacur dengan mucikari.
   Menutup lokasisasi pelacuran memang perlu keberanian dan political will yang kuat dari pemerintah  daerah. Pemerintah Kota Bandung misalnya, menutup Saritem, sebuah lokalisasi pelacuran tergolong besar di Kota Bandung. Saritem dihuni hampir 90 persen pekerja seks Komersial ( PSK ) dari Indramayu. PSK tersebut dipulangkan ke kampung halamannya, Indramayu. Sedangkan penduduk setempat yang merasa terancam pendapatannya dengan penutupan Saritem tersebut melakukan perlawanan. Karena Pembko Bandung menggandeng unsur tokoh agama, pihak keamanan ( polisi dan TNI AD ) , penutupan berhasil. Bandung sebagai kota jasa yang bermartabat ( bersih, makmur,taat, dan bersahabat ), dengan penutupan Saritem langkah yang tepat bagi Pemko menciptakan Bandung Kota Agama.
   Indonesia termasuk dalam skema lalu lintas perdagangan perempuan. Menurut data resmi yang diambil dari tempat-tempat lokasi pelacuran, jumlah pelacur di Indonesia mencapai 65.582 orang. Sedangkan sebanyak 500.000 lainnya tidak rismi terdaftar. Perputaran uang dalam bisnis ini di Indonesia mencapai 1,27 sampai 3,6 miliar dolar AS. Atau sama dengan 4-11 % APBD tahun 1995 Republik Indonesia. Upah sebagai buruh yang rendah, sedangkan kemungkinan memperoleh penghasilan di indestri seks 5-6 kali lipat sangat menggoda. Ini mendorong kaum perempuan masuk ke dunia pelacuran, di samping sebab ini.
   Beberapa laporan data yang berhasil dihimpun menyebutkan, diperkirakan ada sekitar 200.000 wanita diperdagangkan ke Pakistan dalam tempo 10 tahun. Rata-rata tiap bulan ada 200-400 wanita. Di tahun 1994, ada sekitar 2.000 wanita menjadi pelacuran di enam kota di Indonesia. Cara mereka terjun ke pelcuran melalui perdagangan wanita melalui pernikahan palsu,dijual orang tua sendiri kepada omom yang berjanji untuk mencarikan pekerjaan,dibelalng ke pemilik rumah pelacuran atau petani yang perlu istri ( dan tenaga ) atau penculikan. Ini dilaporakan dari Bangladesh.
   Di Myanmar, ada 20.000-30.000 wanita Burma ( sekarang Myanmar) di Thailand. Cara  perekrutannya ialah dengan janji bohong adanya lapangan kerja yang biasanya berakhir di rumah pelacuran. Para agen juga menjual gadis-gadis dari suku-suku di pengunungan. Mereka biasanya kemudian ditangkap sebagai imigran gelap di Thailand. Dideportasi ke Myanmar dengan 0-70% menderita HIV positif. Di Nepal juga dilaporakan, sekitar 5.000 wanita diperdagangkan ke India. Selain mereka di India, yang seluruhnya sekitar 100.000 orang, mereka juga berada di Hongkong Ada organisasi khusus untuk merekrut wanita-wanita di desa, para perantara,bahkan anggota keluarga yang mau memperdagangkannya. Suami-suami terkadang juga menjual ke rumah-rumah bordil.
   Sedangkan di Vietnam, biasanya diperdagangankan ke Cina dan Kamboja. Bahan baku biasanya diambil melalui penculi,penipuan tawaran kerja, atau alasan mengantar turis. Karena ada juga wanita yang tergila-gila pria kulit putih,mereka ini dengan mudah digeat para agen. Biasanya dijual kembali kalau sudah laur negeri. Sekalipun omzet pelacuran miliaran rupiah, namun pereempuan sendiri sebagai objek pelacuran tidak menerima imbalan yang sepadan secara ekonomi. Menurut Harry Wibowo, hanya pihak pemodal ( asing maunpun lokal ), negara dan kelompok yang berkuasa sejalah yang bisa menarik manfaat paling besar dan keuntungan setinggi-tingginya dari sistem pelacuran. Pelacuran tetap bagian tak terjangkau dari hukum yang ada. Tidak salah kalau pelacuran merupakan komoditi seks yang menggiurkan. Palcuran dilakukan dari kelas bawah, di pinggir-pingger jalan, rumah bordil, sampai kelas menengah atas melalui hotel, panggilan telepon, handpone ( disebut wanita panggilan ), panggilan telepon, handpone ( disebut wanita panggilan ), pelacuran berkedok rapat dan bisnis, arisan, sampai wanita simpanan ( tentunya wanita di luar pernikhan sah ).
   Lembaga ilmiah dan pendidikan semacam perguruan tinggi, tak luput dari praktik pelacuran. bahasa halusnya dikenal ayam kampus. Ayam jampus , pelacur " intelek " memulai aksinya di pojok kampus atau di kafe yang selanjuntnya kencan di luar kampus. Apabila dengan handpone di tangan, mereka lebih mudah menjalakan transaksi. Jangankan di kota-kota besar seperti Jakarta,Bandung, Surabaya, Kota Padang saja yang terletak di tanah Minang, ayam kampus bukan rahasia umum di kalangan pria hidung belang. Penampilan merka ( ayam kampus ) biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol. Gayanya pun kadang tak seksi-seksi amat, walau satu dua ada juga bikin jantung lelaki berdetak kencang.
   Seperti dilaporkan surat kabar setempat, lemahnya pengawasan orang tua, pemiliki rumah kos,lingkungan hingga keimanan, menjadi santapan lezat bagi kaum hawa. Perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa di pondokan atau kos-kosan makin dikhawatirkan. Warga seolah permisif dengan pola bergaul bebas di kalangan colan intelektual muda itu.
   Pemerintah sendiri punya kepentingan dari pelacuran ini. Buktinya ada lokalisasi pelacuran. Selain itu, pelacur juga dilindungi tentara Jepang ketika berada jauh dari negerinya. Tentara Jepang yang berada di media perang terpisah jauh dari keluarga, teruatama istri. Untuk membangkitkan semangat dan penyaluran kebutuhan biologisnya kehadiran wanita penghibur merupakan kebutuhan. Itulah sebabnya, masa pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942-1945, banyak wanita Indonesia dijadikan pelacur, yang ddisebut jugun ianfu. Seorang mantan jugun ianfu yang tinggal di Bangkalpinang, pulau Bangka, berusia lebih 70 tahun menceritakan kisahnya. Ia menceritakan tentan kebrutalan tentara Jepang mencari gadis dan wanita untuk dijadikan penghuni bordil khusus buat tentara. Para jugun ianfu ditempatkan di sebuah rumah besar. Meraka diberi tugas nelayani kebutuhan seks tentara Jepang. Jumlah tentara Jepang yang terlalu banyak dibanding jugun ianfu, untuk masuk ke bordil harus memiliki tiket. melalui tiket diatur, para prajurit dan tentara boleh pergi siang hari, dan perwira malam hari. Tnapa tiket tidak bisa main di bordil, walau punya uang.
   Kondisi ini didukung dengan adanya takhayul yang dikaitkan dengan seks bagi orang Jepang. Misalnya, ada kepercayaan,berhubungan seks sebelum ke medan perang bisa menghindarkan sang pelaku dari bencana. Malah ada jimat yang teridiri dari ( maaf ) rambut kelamin wanita penghibur, atau nbenda lain miliki perempuan tersebut. Kegagalan seksual bisa membuat orang rawan kecelakaan. Seks juga mampu ,mengobati stres akibat bertempur dan teruatam di jepang, mampu meningkatkan disiplin pasukan. Malah menurut beberapa sumber kunjungan ke rumah bordil sperti dirituskan orang Jepang, teruatam bagi pasukan yang akan berangkat ke medan perang. Pertimbangan yang umumadalah orang yang belum mempunyai pengalaman seksual harus bersebadan paling tidak satu kali sebelum mati.
   Memang, kehadiran pelacur di kota-kota  makin sulit dicegah. Semuanya diukur dengan uang. Kota yang memiliki lokalisasi, berarti pemerintah setempat secara hukum mengakui keberadaan pelacur dengan berbagai pertimbangan. sedangkan kota yang tidak memiliki lokalisasi,bukan berarti pelacur tidak ada. Seringkali dilakukan razia, sejumlah wanita penghibur berhasil dijaring aparat. Sayangnya, yang dijaring berkeliaran. Pertanyaan yang perlu diajukan,benarkah pelacuran hanya masalah moral ? Bagaimana dengan ketimpangan dalam hubungan antara perempuan dengan laki-laki yang seringkali diwarnai kekerasaan ? atau ketimpangan dalam hubungan anatar perempuan dengan laki-laki yang seringkali diwarnai kekerasaan / Atau ketimpangan dalam mengakses pekerjaan ? Atau  ketimbangan dalam mengakses pendidikan atau sumber-sumber daya lainnya jadi penyebab utama banyaknya perempuan terjerumus ke dunia hitam ini ?
   Harus disadari, tidak ada perempuan  yang bersedia mengorbankan harga diri, menerima cemoohan atau tatapan sinis masyarakat, serta dikejar-kejar anjing buduk oleh aparat maupun masyarakat yang merasa lebih mulia dari pekerja seks? Tidak ada seorang perempuan pun yang bermimpi,terlebih lagi bercita-cit untuk menjual tubuh mereka dari satu laki-laki ke laki-laki liannya. Sebagaian besar dari pekerja yang harus menghidupi anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Pilihan sebagai pelacur merupakan pekerjaan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Desakan ekonomi, kemiskinan dan pendidikan rendah dari sebagai besar pekrja seks meyebabkan mereka mengambil pilihan ini. Menjadi pekerja seks adalah plihan rasional di anatar sedikit pilihan yang terbuka bagi mereka. Dengan pekerjaan ini, Mereka bisa mendapatkan penghasilan cukup,bahkan bisa membiayai anggota keluaraga lainnya. Meraka bangga karena bisa mengirim uang kepada ayah,ibu,anak, ataupun saudara walaupun kebanggaan itu harus ditebus dengn " kepedihan " dan "hukuman'' masyarakat.
   Akibat stigma sosial terhadap para pekerja seks memyebabkan mereka harus merasikan pekerjaan itu di depan orang tua,anak,keluarga,maupun tetangga. Ini meruapkan beban batin tersendiri bagi pelacur. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa sebagaian besar para pekerja seks yang berada di Pasar Kemabng Yogyakarta ini berasal dai luar kota Yogyakarta. Masalah keamanan menjdi resiko penting, terumata bagi para pekerja seks yang beroperasi di jalan. Mereka tidak saja menghadapi resiko di razia aparat atau masyarakat karena dianggap mengganggu keterbitan dan ketenteraman lingkungan,tetapi juga menghadapi risiko kekerasan seperti diperas, hotel berbintang,kondisi keamanan dapat dikatakan lebih baik dibanding yang di jalan karena di sini jarang terjadi razia. Di samping itu pun terdapat para penjaga keamanan, yang tentunya harus dibayar.
   Dengan adanya razia yang dilancarkan aparat,menunjukkan masih adanya keinginan untuk mengurangi praktik pelacuran di tengah masyarakat. Artinya, pihak berkompeten di daerah masih punya nyali untuk mencegahnya. Tetapi harus diingat, sepanjang sejarah terbukti pecuran tidak bisa diberantas habis dengan hukuman berat. Terbukti darui usaha Raja Louis IX dari Prancis yang mengeluarkan maklumat bahwa semua pecuran dan semua orang-orang yang mata pencaharian berasal dari pelacuran akan dibuang ke luar negeri. Satu bulan pertama, tampaknya uasaha ini berhasil. Tetapi lambat laun timbul lagi pelacuran secara gelap,malah lebih ramai lagi dari sebelumnya. Akhirnya terpaksa hukum mengenai pelacuran ditinjau dan diubah lagi. Pelacuran dihidupkan lagi, tetapi dalam pengawasan polisi.

D. Gigolo
     Lain pelacur, lain pula gigolo. Pada pelacur, laki-laki yang  butuh nafsu seksnya dipuaskan dan memberikan imbalan uang pada perempuan. Gigolo sebaliknya. Wanita yang haus seks dan ingin dipuaskan oleh seorang laki-laki. Atas kesediaan laki-laki memenuhi kebutuhan seks si wanita itu, ia meneriam imblan dari wanita tersebut, baik berupa uang dengan jumlah tertentu maupun hadiah lain atas kepuasan seks yang diterimanya.
   Umumnya wanita yang memanfaatkan gigolo adalah wanita-wanita yang memilki banyak uang, hidup mewah, semantara kebutuhan seksnya tdiak terpenuhi oleh sang suami. Boleh jadi suaminya jarang di rumah, sering keluar kota, sibuk kerja. sehingga istrinya kesepian, atau suami sudah tua, tidak bernafsu ( tenaga ) dan sebagainya. Atau seorang wanita janda, tetapi yang tidak mau nikah lagi, tetapi punya kesanggupan membayar seorang laki-laki untuk memenuhi kebutuhan seksnya. Gigolo sendiri kebanyakan dari kalangan anak muda. Karena dinilai kaut, dan mampu memenuhi seks wanita-wanita yag kesepian, berusia sekitar 25-40 tahun. Gigolo ini pun ada ynag masih berstatus pelajar sekolah menegah atas.
   Majalah Matra edisi Mei 1994 menurukan liputan dengan topik Gigolo. Seorang gigolo bisa menrima upah mencapai ratusan rupiah sekalu main. Itu tergantung kesepakatan antara gigolo dengan wanita yang haus seks itu. Malah ada pengakuan gigolo permainnya sampai ke luar negeri, Singapura, hanya untuk main seks, yang tentunya bertarif jutaan rupiah di laur transportasi. Praktik gigolo terjadi pada wanita kalangan atas, elite, tetapai juga merambah ke dunia pariwisata.  Bali sebagai primadona pariwisata Indonesia, tidak dapat dipungkiri munculnya praktik gigolo. Sasaran gigolo adalah wanita wisatawan asing. Selain itu ada lagi kelompok beacb boys, yakni kalangan pria yang mencari sasaran kalangan wisatawan asing dari kelompok homoseksual. Mereka ini dalam melakukan hubungan seks suka sama suka secara anal seks. Hasil penelitian Ketua Pusat Informasi AIDS dan UPLEK Fakultas Kedokteran Universitas Udayana bahwa gigolo yang melakukan kegiatan di bawasan Ubud dan Kuta, sasaranya adalah untuk mendapatkan uang dan kepuasan seks. Sedangkan gigolo di kawasan Nusa Dua, uang adalah nomor dua, yang utama adalah untuk kepuasan seks, kesengan dan lebih menekankan pada hubungan kemitraan.
   Ia juga mengakui, kelompok gigolo rawan terserang AIDS. Para beacb boys adalah kelompok heteroseksual, mereka ada yang punya pacar dan bahkan istri. Ini bisa menyebabkan AIDS masuk ke dalam kehidupan rumah tangga. Motivasi anak-anak pantai sama saja, yakni mendapatkan uang dengan cara mudah, tanpa memerlukan risikonya.

E. Homoseksual
     Selama ini pandangan masyarakat awam Indonesia terhadap laki-laki homoseksual, sedangkan perempuan homoseksual lebih razim disebut lesbian atau lesbi. Dalam kira-kira sepuluh tahun terakhir ini, dikenal juga istilah gay untuk mengacu pada laki-laki homoseksual. Pandangan ini sedikit perlu dilurukan.
   Menurut Dede Oetomo, homoseksualitas mengacu pada rasa tertarik secara perasaa  ( kasih sayang ,hubungan menonjol ) maupun ekslusif ( semata-mata ) terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan fisik ( jasmaniah ).Sedangkan perbuatan homoseksual ( bomosexual acts ) atau perilaku homoseksual ( bomosexual bebavior ) mengacu pada kegiatan atau perilaku seksual antara dua orang yang sejins kelamin sama. Dalam hal ini, harus juga diingat bahwa orang yang melakukan kegiatan atau berpeilku homoseksual dapat saja paa konteks lain melakukan kegiatan atau berpeilaku heteroseksual dan sebaliknya.
   Masyarakat Yunani kuno mempercayai homoseksual sebagai cinta yang e tinggi dari heteroseksual. Meski anggapan semikian tidak berlaku di masyarakat modern,kenyataan homoseksual semakin diterima kehadirannya. Lalu gay dan lesbian di seluruh dunia  kini tak sungkan lagi membuka mulut. Mereka memprotes diskriminasi seks. Ada dua pandangan para pengkaji aktivitas homoseksual ini. Pandangan pertama menyebutkan, homoseksual merupakan bagian hakiki ( sesnsial ) dari struktur kepribadian manusia yang merupakan bawasan dari lahir. Pandangan ini muncul dari konseptualisasi medisbiologis para pakar abda XIX yang melihat adanya kesemestaan ( universalitas ) homoseksual di mana-mana dan zaman mana pun. Pandangan kedua, dikenal sebagai sosio-konstruksionisme ( sosial contructionism ), banyak dianut oleh kalangan ilmuan sosial yang terpengaruh ide-ide Michel Faucault dari tahun 1970-an.

1. Dag
    Day,hubungan homoseksual yang dilakukan sesama laki-laki. Penis laki-laki dimasukkan ke dalam anus laki-laki lain ( pasangannya ). Laki-laki gay merasa tertarik dan terangsang untuk berhubungan seks bila melakukan hubungan seks sesama laki-laki. Perbuatan day ini sudah lama ada di dalam sejarah manusia. ingat Allah''.
Mengisahkan suatu kaum yang melakukan perbuatan homoseksual ( gay ) ini, yakni kaum Nabi Luth,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٨٠) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (٨٢) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (٨٣) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (٨٤


.''Dan ( Kami juga telah mengutus ) Luth ( kepala kaumnya ).( Ingatlah ) tatkala dia berkata kepada mereka; mengapa kamu mengerjekan perbuatan faabisab ( maksudnya perbuatan homoseksual ), yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun ( di dunia ini ) sebelummu ? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepas nafsumu ( kepada mereka ), bukan kepada wanita,malah kamu ini adalah kaum yang mengatakan; Usirlah mereka ( Luth dan pengikut-pengikutnya ) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal ( dibinasakan ). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan ( batu ) maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu . ( QS. AL-Araf (7):80-84 )

Demikinan kisah kaum Luth,kaum gay, sebagai peringatan bagi umat manusia. Sayang manusia tidak peduli dengan peringatan tersebut.
   Di negara Ameriak, day bukan masalah yang tabu. Malah di angkatan  bersenjata negara adidaya itu pun sudah tak lagi ditabukan. Buktinya, ketika Bill Clinton menjabat presiden, sudah diputuskan untuk tidak memecat kaum day di angkatan bersenjatanya, meski belum dijamin undang-undang. Padahal sebelumnya sikap pemerintah Amerika Serikat terhadap gay di tubuh angkatan bersenjata itu cukup tegas, diberhentikan.
   Lantas bagaiman dengan Indonesia. Adakah praktik day di masyarakat/ Kehidupan kota yang cenderung individu, cuek, memberi peluang day untuk memuaskan nafsunya. Apalagi dengan tumbuhnya budaya hedonisme, kesenangan hidup adalah tujuan hidupnya. Pada sebagian masyarakat gay berhasil mendirikan paguyupan. Tahun 1982, tanggal 1 Maret didirikan Lambda Indonesia ( LI ), yang menerbitkan buletin G : Gaya hidup ceria. Buletin ini terbit hingga akhir 1984. Awal tahun 1985 di Yogyakarta muncul Persaudaraan Gay Yogyakarta ( PGY ) dengan terbitnya Jaka, yang khusus laki-laki dan berad terbatas. PGY bubar pada paruh kedua 1998, setelah memperluas ruang lingkupnya menjadi Indonesia Gay Society ( IGS ). Alasannya, banyak aktivisnya pindah ke kota lain. November q987 muncul lagi di kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara yang berusaha beruang lingkup nasional dan melayani kaum lesbian, gay, dan juga waria.
   Makin maraknya perilaku gay tidak wajar itu dipengaruhi oleh faktor keamanan dan kontrol di tengah masyarakat. Konselor Universitas Negeri Padang ( UNP ), Drs. Mudjiran MS, Kons menyebutkan, tahap awalnya coba-coba saja. Bila lingkungan tidak peduli, mereka bereaksi. Sebaliknya mereka kembali bagaimana pun mereka ada dan menginginkan diakui. Dalam masyarakat tradisionsal Indonesia, pada beberapa suku juga ditemukan praktek homoseksual. Di aceh hubungan homoseksual yang diketahui dari laporan para sarjana Barat. Ahli Aceh dan Islam C. Snouch Hurgronje, misalnya, di awal abad XX melaporkan adanya hubungan homoseksual yang dilakukan oleh para ulebalang di Aceh, yang sangat menyukai budak-budak remaja putra dari Nias karena ketampanannya. Hubungan homoseksual juga dilaporkannya ada di kalangan para pedagang Aceh yang bermukim di pantai timur. Hurgronje juga menyebutkan lazimnya hubungan homoseksual antara laki-laki di Jawa, khususnya daerah Solo-Yogya, dan di Minangkabau.
   Dede juga menulis laporan serupa dapat  pula dibaca dalam karya Ulius Jacobs, seorang pejabat kesehatan di Banyuwangi yang mewawancarai orang-orang Bali menjelang akhir abad XIX, dan mendapatkan jawaban yang jujur dan terbuka mengenai adanya perilaku homoseksual dangan berbagai istilah di kalangan orang Bali laki-laki maupun perempuan. Di masyarakat Minangkabau tradisional dikenal hubungan antara laki-laki dewasa dan remaja, di mana si dewasa sisebut induak jawi ( harfiah berarti induk lembu ) dan si remaja pasangannya dinamakan anak jawi. Informan-informan Minang yang jujur selalu mengakui adanya hubungan semacam itu. Ada yang mengaitkan hubungan ini di surau atau dengan hubungan guru-murid dalam ilmu sila. Bila dikaitkan dengan kehidupan pondok pesantren di jawa, dikenal istilah mairilan, yaitu hubungan antarsantri di pondok pesantren. Istilah mairilan dipakai untuk mengacu ada kekasih yang lebih muda. Ini dapat diperoleh melalui informasi yang jujur,maka diakui adanya hubungan seperti itu di antara santri.
   Di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri ( IPDN ) yang diributkan dengan aksi kekerasan terhadap praja, juga meyimpan perilaku seks bebas. Seperti dituturkan Inu Kencana Syafi'i salah seorang dosen IPDN, sangat banyak terjadi penyelewengan. Seperti seks bebas, lesbian, dan homoseksual atau bahasa kerenya gay.

2. Lesbian
    Drs. M. Ali Chasan Umar menyebutkan,lesbian adalah berupa perbuatan menggesekkan atau menyentuhkan alat vital saja dan bukannya ejakulasi. Biasanya perbuatan itu dilakukan sesama jenis di kalangan wanita dengan wanita. Lesbian ini terlarang meurut konsensus para ulama. dipersamakan pada lelaki yang mengesekkan alat vitalnya kepada perempuan dengan tidak memasukkan ke dalam farji atau vagina.
   Di masa kerjaan tempo dulu, raja biasanya punya puluhan bahkan mungkin ratusan selir, sebagai pemuas nafsu. Dengan konsisi demikian, muncul pertanyaan, bagaimana selir mengatasi kebutuhan seksnya? mana mungkin sang raja punya waktu memenuhi kebutuhan seks semua selirnya. Paling hanya mampu menggilir mereka sekali tiga bulan atau lebih. kalau pun ada yang rutin, tentu ada pengecualian. Tergantung dari situasi perasaan sang raja. Akibatnya, kehidupan selir dari situasi perasaan sang raja. Akibatnya, kehidupan selir dari hari ke hari kerjanya bergaul dengan tubuhnya sendiri agar selalu tampak cantik dan merangsang. Bisa Anda bayangkan, apa yang terjadi di balik kehisupan para selir itu ? Mungkinkah mereka melakukan lesbian ? Wallahu a'lam.
   Di Yunani, mungkun akhir abad VII Masehi hidup seorang penyair wanita kelahiran pulau Lesbos, Sappho. Kapan kematiannya tidak diketahui secara pasti. Namun karya-karyanya dikatahui secara pasti. Namun karya-karyanya dikatahui mencapai usia lanjut, dia menikah punya seorang anak gadis. Tidak banyak diketahui tentang kehidpunya. Yang jelas, Sappho sangat terkenal dalam budya Roma. Catullus menerjemahkan satu syair, sering mengutip bait-bainya dan meniru mantranya. Horatius juga sering menggunakan bantuk bait Sappho. Orang-orang yang berasal dari pulau Lesbos, pulau kelahiran Sappho disebut Lesbiani.
   Praktik lesbian makin banyak ditampilkan dalam flim-flim porno yang diperankan wanita-wanita haus seks dan ingin dapat uang mudah. flim porno mudah didapatkan melalui CD-CD yang dirental maupun dijual di kaki lima dengan sembunyi-sembunyi. Tayangannya menjijikkan, dan tentunya sangat merendahkan harkat dan martabat dari perempuan itu sendiri khususnya manusia umumnya. Maraknya peredaran CD tersebut, boleh jadi bakal mendorong tumbuh dan berkembangan lesbi-lesbi baru di tengah masyarakat.

F. Perkosaan
    Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun WJS Poerwadarminta menartikan perkosa diartikan menundukkan dan sebagainya dengan kekerasan; mengagahi, memaksa dengan kekerasan. Sedangkan perkosaan adalah perbuatan memperkosa, penggegahan, paksaan, pelanggaran dengan kekerasan. Pasal 285 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ) mensyaratkan yang disebut perkosaan bila pelakunya adalah laki-laki dan korbanya harus perempuan. Tapi apakah ketentuan ini mutlak ? Soalnya, bisa jadi seorang perempuan yang memperkosaa laki-laki. Atau boleh jadi seorang laki-laki mengagahi (memaksa berhubungan seksual ) seorang laki-laki ( homoseksual ), perempuan memperkosa perempuan (lesbianisme ),suami memperkosa istrinya karena sang istri mau menuruti kebutuhan seksual suaminya. Tampaknya ketentuan dalam KUHP ini belum mampu menjaring masalah-masalah di atas.
   Perbuatan perkosaan merupakan seks bebas ( free sex ) di luar nikah yanng merugikan pihak lain, yang diperkosa. Perbuatan perkosaan dilakukan dengaan kekerasan karena bukan didasarkan atas suka sama suka. Umumnya perkosaan bisa dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Pelaku perkosaan bisa saru, dua orang atau lebih. Bila pelaku lebih dari satu orang, korban digilir tanpa merasa kasihan. Biasanya, korban setelah diperkosa ditinggalkan begitu saja. Korban-korban perkosaan ini setiap hari terus berjatuhan. Pelaku sepertinya terus bermunculan dan tidak pernah jera. Hal ini juga didukung makin banyak kesempatan untuk memperkosa, di samping niat yang didorong oleh penyeluran seks yang menggebu. Penelitian yang dilakukan Mas'alina, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung ( Unila ) terhadap 20 orang penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak-Anak Tangerang membenarkan asumi bahwa kasus perkosaan yang disebabkan oleh alkohol dan flim porno punya persentase sama, yakni 35%.
   Dalam flim The Accused yang diperankan Jodie Foster disebutkan setiap 6 menit terjadi 1 kasus perkosaan di Amerika Serikat. Jumlah kejahatan itu terlihat makin meningkat. laporan lain menyebutkan bahwa di negeri Paman Sam itu setiap sepuluh ribu wanita, 36 orang diperkirakan pernah diperkosa. Ini di negara penganut paham lebiral. Di mana hubungan seks bebas ( free sex )  berjangkit dan lunturnya keyakinan terhadap " kesucian" seks itu sendiri.
   Kasus perkosaan yang dialami perempuan Indonesia  di luar negeri sebagai tenaga wanita ( TKW ), salah satu dianggap memiliki daya tarik seks yang tinggi sehingga rawan pelecehan seksual, termasuk perkosaan. Tidak peduli canik atau jelek. Jadi kira-kira kalau ada 10 TKW yang diberangkatkan, paling yang tidak diperkosa hanya tiga orang. Respons dari buruh imigran, ada tiga macam, yakni menolak ( sehingga kerap berbuntut penganiayaan ), bersedia melayani karena kerap terpaksa, dan bahkan ada yang sengaja  "menjual diri " untuk mendaptkan tambahan gaji yang lebih besar.
   Namun, kemungkinan perkosaan menjadi ytindak kejahatan nomor satu di negeri ini bisa saja. Sebab, banyak kasus perkosaan tidak dilaporakan ke pihak berwajib. Alasannya malu melaporkan. Bila masalah perkosaan yang dialaminya sampai ke pihak berwajib, kepolisian,malu, ditanya ini, tanya itu. Sampai di polisian, masuk media massa. semua orang tahu. Daripada meanggung malu, biar tidak dilaporkan. Tentunya pandangan ini makin luntur, karena sikap benci terhadap pelaku perkosaan yang membuat anggota keluarga ( orangtua ) korban bertindak, melaporkan pelaku perkosaan ke polisi , sekalipun pelakunya adalah keluarga, ayah, suami, saudara, famili dari si korban atau si pelapor. Apa pun dalihnya, mengamati kasus perkosaan ini pasti menimbulkan sikap benci,jijik,prihatin, mengutuk pelaku , dan entah apa lagi. Soalnya, banyak perkosaan yang terkadang sangat tidak manusiawi dan tidak mungkin dilakukan oleh manusia normal. Bayangkan, seorang perempuan yang tidak berdaya lagi, digilir sampai pingsan oleh beberapa orang laki-laki. sampai-sampai dibunuh atau ditinggalkan begitu saja disemak belukar sehabis digilir dengan kondisi pakaian compang-camping.
   Pada kasus-kasus perkosaan, atau faktor penting yang mestinya dijadikan focus of interest dari penelitian-penelitian semacam yang dilakukan Mas'alina, adalah faktor kekerasaan atau violence. Karena, perkosaan pertama-tama memang adalah perilaku kekerasaan. Dalam hasil penelitian Mas'alina yang bertemakan'' Tinjuan Yuridis Kriminologis terhadap Kejahatan Perkosaan yang Dilakukan oleh Anak di bawah Umur'', suatu faktor menarik yang mungkin berkaitan erat dengan faktor ini, adalah fakta bahwa 50% pelaku pemerkosaan anak tersebut, ternyata berasal dari lingkungan kehidupan asrama tentara yang serba disiplin yang membuat anak tak betah dan mencari pelarian di luar lingkungan itu. Dugaan Mas'alina tentang faktor bekking yang memicu keberanian si anak, dianggap kurang tetap oleh Thomas Adyan.
   Dokumentasi Kalyanamitra mengungkapkan, persentase kasus perkosaan 1994 anatar lain ,pelaku dikenal oleh korban mencapai 74%,pelaku keluarga dekat 7 %, pelaku bukan sakit Jiwa 99 %, hubungan majikan dengan anak buah 8%, koran perkosaan bukan perempuan 1%, korban tidak selalu cantik dan muda 28%,korban berumur 6-14 tahun 32.5%,korban berumur 15-17 tahun 36,5%,korban berumur 17 tahun ( maksimal 65 tahun ) 25%,perkosaan direncanakan 73%, perkosaan tidak direncanakan 25%. Data tahun 1995 menunjukkan jumlah korban dilaporkan 564, korban tertinggi 6-14 tahun dan pelaku dikenal hampir 90%.
   Pengiriman tenaga kerja wanita (TKW ) ke luar negeri termasuk rawan tertimpa kasus perkosaan. Laporan Kelompok Kerja  Gerakan Perempuan menunjukkan, peningkatan lebih dari 100% perkosaan terhadap tenaga kerja Arab Saudi dari tahun ke tahun. Pada tahun 1999, terjadi 484 kasus perkosaan TKW Indonesia di negara itu. Itu pun yang sempat dilaporkan. Mereka memperkirakan ratusan TKW lainnya yang diperkosa, disiksa bahkan dibunuh, tidak pernah terlaporkan karena sistem pemantauan pemerintah Indonesia yang sangat buruk.
   Banyak lagi kasus perkosaan yang membuat kita negeri sekaligus sedih. Seorang pacar ( laki-laki ) yang takut dikhianati, atau khawatir orangtua si perempuan menolak lamarannya, langsung memperkosa. Ini dimasudkan bila anaknya sudah "ditiduri'', orangtua tidak mungkin lagi menolak lamarannya. Tindakan ini sama saja meminum air keruh. Artinya, dikeruhkan ( dirusak ) dulu "kesucian " perempuan,baru dijadikan istri sebagai teman hidup. Sungguh menyedihkan dan suara anggapan yang keliru.
   Itu hanya sekelumit gambaran suram dari perkosaan.  Pertanyaan selanjutnya, mengapa perkosaan terus terjadi? Penyebab terjadinya perkosaan,ada kesempatan dan niat melakukan perkosaan. pertama, kesempatan yang makin banyak untuk memperkosa. Baik disengaja diciptakan atau secara kebetulan. Calon korban perkosaan sendiri tanpa menyedari ikut menciptakan kesempatan terjadinya perkosaan. Seperti jalan sendiri di tengah malam, suasana sepi, berduaan dengan laki-laki bukan suami/muhrim di tempat sepi  atau di ruang khusus jauh dari keramaian. Sekalipun laki-laki tersebut sudah dikenal baik. Bukankah banyak kasus perkosaan pelaku dikenal korban ? Atau perempuan sendiri tergiur oleh iming-iming atau ajakan dari laki-laki tanpa jelas tujuan yang dimaksud.
   Kedua, niat memperkosa yang didorong oleh nafsu seks tidak terkendali. Munculnya dorongan seks yang menggebu boleh jadi akibat menonton flim-flim porno, merangsang,''panas'' sehingga muncul niat melampiaskan nafsy seks dengan memperkosa. Sasarannya jelas perempuan yang sudah dikenal dan mudah diajak. Pelaku mencari car untuk mengajak ramai. Sesampai di tempat sepi, aksi perkosaan mereka lampiaskan di tempat sepi, aksi perkosaan mereka lampiaskan,Terkadang korbanya sudah diincar dalam tempo cukup lama.
   Ketiga, ada niat ada kesempatan. Bila niat dan kesempatan berpadu,maka perkosaan sulit ditelakkan. Sebelumnya,memang sudah ada niat memperkosa. Karena belum ada kesempatan, niat tersebut masih belum jadi kenyataan. Ketika melihat kesempatan, seorang perempuan dapat dijadikan korban,perkosaan pun terjadi. Hasil penelitian Kalyanamitra tahun 1989-1990 mengenai perkosaan adanya sejumlah mitos masyarakat yang tidak sesuai dengan faktanya. Mitos itu adalah; petama, perkosaan merupakan tindakan impulsif dan didorong nafsu birahi yang tak tekontrol. Kedua, korban yang diperkosa oleh orang yang asing ( tidak dikenal oleh korban ), orang sakit jiwa, yang mengintai dari kegelapan. Ketiga, hanya perempuan dengan reputasi buruk yang diperkosa. Keempat, perkosaan hanya terjadi antara orang-orang miskin dan tak terpelajar. Kelima,perempuan diperkosa karena berpenampilan yang mengundang perkosaan ( berpakian minim, berdandan seronok, dan sebagainya ). Keenam, perkosaan terjadi di tempat yang berisiko tinggi; di luar rumah,sepi,gelap, dan di dalam hari. Ketujuh, perempuan secara tersamar memang ingin diperkosa.
   Sedangkan faktanya; pertama, perkosaan bukanlah nafsu birahi, tidak terjadi seketika. Ia merupakan kekerasan seksual dan merupakan manisfestasi kekuasaan yang ditujukan pelaku  pada korbannya. Sebagian besar perkosaan merupakan tindakan yang direncanakan. Kedua, banyak pelaku perkosaan adalah orang yang dikenal baik oleh korban. Banyak perkosaan dilakukan oleh orang yang kelihatannya baik-baik yang dikenal baik korban. Ketiga, reputasi seseorang tidak ada kaitannya dengan perkosaan. Perkosaan dapat menimpa siapa saja, tidak peduli cantik atau tidak, profesi apa pun, semua umur, semua kelas sosial. Keempat, korban maupun pelaku bisa berasal dari kelas sosial man pun. Kelima, perkosaan tidak ad hubungannya dengan penampilan seseorang. Perkosaan bisa terjadi pada anak-anak di bawah umur, dan juga pada orang lanjut usia. Keenam, hampir dari setengah perkosaan terjadi di rumah korban, di siang hari. Ketujuh, korban perjosaan tidak pernah merasa senang dan tidak mengharapakn perkosaan. Trauma perkosaan sulit hilang seumur hidup.
   Ringannya hukuman bagi pelaku perkosaan salah satu penyebab pelaku perkosaan terus meningkat. Kitab Undang-Undung Hukum Pidana ( KUHP ) yang berlaku di Indonesia, mengatur ketentuan perkosaan pada Bab XIV kejahatan   terhadap kesusilaan. Pasal 285 menyebutkan, barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar pernikahan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
   Pasal 286 menambahkan, bila pelaku membari korbannya obat tidur sehingga tidak sadar diri / pingsan dan tidak berdaya, ancaman hukumannya paling lama sembilan tahun. Ancaman hukum ini juga sama bila korban perkosaannya diketahui atau sepatutnya harus diduga berumur belum lima belas tahun, belum waktunya dinikahkan, pidana penjara paling lama sembilan tahun.
   Bahkan Pasal 294 dari KUHP itu menjelaskan, barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa yanh pemliharaanya, pendidikan dan penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangnya atau bawahnya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujug tahun.
   Sekalipun ancaman hukuman pelaku perkosaan ini bertahun-tahun,praktiknya pelaku hanya dihukum 1 hingga 3 tahun. Jarang yang dihukum maksimal tersebut. Hukuman sepertinya memang sulit menjangkau secara menyeluru dn langsung dalam perkara-perkala yang menyangkut kelamin. Penegakan keadilan dalam kasus-kasus perkosaan daja misalnya, kita tahu kerap tehalang oleh berbagai kendala nonhuum yang akhirnya mengutungkan para pelaku pemerkosaan. Kendala kultural di masyarakat yang masih juga patriakal atau kendala psikogis yang timbul dari peran gender kaum perempua akan menjadi sangat menguntungkan bagi seorang pemerkosaan yang kebetulan diseret ke pengadilan. Apalagi pengadilan yang masih banyak bolongnya sehingga berbagai rekayaan masih sangat sering terjadi.
   Ringannya hukuman tersebut, wajar ada usaha pelaku perkosaan dihukum berat. kapan hukuman mati ata disiarkan awajhnya melalui televisi,biar publik tahu. Manajer Kalyanamitra. Ita F. Nadia kepada Kompas pernah menyebutkan, penayangan pelaku perkosaan, sesudah vonis dijatuhkan, bisa dianggap sebagai salah satu sanki sosial. Namun hal itu tak efektif untuk mengurangi jumlah kasus perkosaan, jika tidak disertai anksi hukum lebih berat.
   Prof. Dr. Hasan Hathout guru besar Obstetri dan Genekologi Fakultas Kedokteran Universitas Kuwait dalam bukunya Revolusi seksual perempuanm menyebutkan, apalagi jika terbukti, maka si pemerkosa dapat dijatuhi hukuman mati. Namun demikian, perempuan yang diperkosa tidak dianggap berdosa,sebab dia tidak berdaya dan tidak dipersalahkan. Aturan ini didasarkan pada Alquran.
   Jika seseorang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya tidak ( pula ) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Alllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. Al- Baqarah (2) : 173 )











0 Response to "MACAM-MACAM PERILAKU SEKS BEBAS ( FREE SEX )"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel